Krisis Moneter 1998 di Korea Selatan, Jutaan Warganya Lakukan Hal Ini Demi Selamatkan Ekonomi Negara

inNalar.com – Korea Selatan memiliki kisah dramatis yang dilakukan jutaan warganya demi bisa selamatkan negara mereka dari krisis moneter yang terjadi pada 1998.

Awal mula krisis moneter ini terjadi karena pemerintah Thailand melakukan kebijakan intervensi pada 2 Juli 1997, hal ini justru berdampak pada mata uang mereka, Baht mengalami depresiasi.

Tidak hanya di Thailand, krisis moneter ini juga berdampak pada negara Asia lainnya seperti Singapura, Malaysia, Filipina, Korea Selatan hingga Indonesia. Bahkan IMF menyebut hal ini sebagai krisis kapitalisme.

Baca Juga: Maskapai Koryo, Satu-satunya Maskapai Korea Utara dengan Fasilitas Terburuk di Dunia! Apa Benar?

Pada 1997 Korea Selatan memiliki utang 154 miliar USD, sedangkan kemampuan bayar mereka hanya 30 miliar USD. Artinya Korea Selatan memiliki utang lima kali lipat dibanding kemampuan bayar mereka.

Ekonomi Korea Selatan semakin parah ketika krisis Asia terjadi, nilai tukar won Korea jatuh sampai 60% dibanding dolar Amerika, hal ini tentu saja membuat utang Korea Selatan semakin membengkak.

Dilansir dari kanal Youtube Ngomongin Uang, tercatat ada 240 ribu unit perusahaan di Korea Selatan yang bangkrut akibat krisis moneter, mulai dari usaha mikro rakyat, usaha menengah hingga perusahaan korporasi.

Krisis moneter ini juga berdampak langsung pada warganya, PHK besar-besaran terjadi di mana-mana, 30 kongomerasi Korea Selatan sampai memiliki utang enam kali lipat daripada kemampuan bayarnya, hingga kasus bunuh diri yang terus meningkat.

Baca Juga: 10 Negara dengan Militer Terkuat di Asia 2023, Indonesia Lebih Unggul dari Israel dan Korea Utara!

Saat berada di ambang kebangkrutan, Pemerintah Korea Selatan akhirnya terpaksa meminta bantuan IMF untuk mendapatkan dana bantuan.

Akhirnya IMF memberikan bantuan sebesar 58 miliar USD atau Rp1600 triliun (nilai tukar tahun 2023), supaya Korea Selatan dapat membangun ulang ekonomi negaranya.

Pinjaman dari IMF ini mereka gunakan untuk menstabilkan nilai tukar won, merestruktrurisasi bank-bank besar di Korea Selatan, membentuk anggaran kebijakan fiskal, dan mengisi cadangan devisa negara.

Sayangnya pinjaman dari IMF tidak sepenuhnya menyelesaikan masalah, Korea Selatan tidak memiliki modal lagi untuk mengembalikan utang kepada IMF dengan cepat.

Kim Dae Jung, presiden Korea Selatan saat itu terpaksa meminta bantuan kepada rakyatnya untuk membantu melunasi hutang negara kepada IMF.

Secara mengejutkan, warga Korea selatan rela berbondong-bondong menyumbangkan emas yang mereka punya ke bank yang ditunjuk pemerintah. Gerakan ini disebut Geum Mo-Eugi Undong, gerakan mengumpulkan emas.

Baca Juga: WOW! Inilah Kereta Api dengan Rute Terpanjang di Indonesia, Lebih Panjang dari Kereta Cepat Korea Selatan!

Ada sebanyak 3,5 juta warga Korea Selatan yang rela menyumbangkan emasnya, bahkan rela mengantri di bank selama berjam-jam.

Emas yang mereka sumbangkan sebagian besar berupa emas batangan, perhiasan hingga medali.

Tidak hanya rakyat kecil saja, presiden, para konglomerat, hingga atlet olahraga semuanya bergotong royong menyumbangkan emas mereka.

Pada 30 April 1998, gerakan mengumpulkan emas ini resmi ditutup. Dari penggalangan inilah terkumpul sebanyak 226 ton emas dalam kurun waktu kurang dari 4 bulan.

Akhirnya pada 2001, Korea Selatan berhasil melunasi utang negaranya kepada IMF bahkan tiga tahun lebih cepat dibanding waktu jatuh tempo yang diberikan oleh IMF.

Secara teknis emas yang terkumpul dari gerakan ini belum sepenuhnya menutup utang negara, namun sifat gotong royong dan kesediaan masyarakat untuk berkorban demi negara patut ditiru.***

Baca Juga: Wow! Suku di Sulawesi Tenggara Ini Gunakan Bahasa Korea Sejak Puluhan Tahun Lalu, Intip Sejarah dan Faktanya

 

 

Rekomendasi