

inNalar.com – Writers on strike merupakan aksi protes dan mogok kerja para penulis, dibantu juga dengan para aktor yang ikut menyuarakan hak-haknya.
Dilansir dari laman Today, sejak tanggal 2 Mei 2023 Writers Guild of America (WGA) sebuah aliansi dua serikat pekerja, mewakili lebih dari 11.000 penulis film, radio, televisi, dan berita untuk melakukan unjuk rasa.
Pemicu dari mogok kerja para penulis Hollywood ini karena kesepakatan gaji mereka mulai kadaluwarsa pada pertengahan 2023.
Para penulis ini menuntut gaji yang lebih tinggi dan stabil, mereka juga menuntut kejelasan dari ketentuan penggunaan AI sesuai dengan daftar proposal WGA.
Baca Juga: Buat Gempar Dunia! Sedang Musim Panas Namun Arab Saudi Terkena Hujan Petir, Pertanda Apakah Ini?
Serikat pekerja menyebut aksi mogok kerja ini sebagai “Krisis Eksistensial” bagi para penulis. Hingga hari ini 24 Agustus 2023, aksi protes memasuki hari ke 115.
Sebenarnya aksi protes kali ini bukanlah yang pertama kali, sebelumnya serikat penulis sudah sering protes ke satuan studio dan produser film di Amerika, contohnya pada tahun 1960 para penulis dan aktor juga pernah melakukan hal serupa.
Hadirnya platform Over The Top (OTT) seperti Netflix, Disney+ dan lain-lain juga berpengaruh besar pada pendapatan para penulis naskah.
Baca Juga: Air Koryo Maskapai Korea Utara Kembali Mengudara ke Luar Negeri sejak Vakum Akibat Pandemi Covid 19
Karena memang ternyata dengan hadirnya platform streaming yang basisnya langganan perbulan, residual yang mereka dapatkan jadi tidak seberapa dibandingkan ketika film mereka ditayangkan di televisi.
Belum lagi pemotongan jam kerja yang diterapkan produser film. Biasanya selain menulis naskah, para penulis ini juga akan ikut andil dalam proses pembuatan film agar alurnya tidak melenceng.
Namun kali ini berbeda, para penulis hanya ditugaskan untuk menulis sehingga pendapatan mereka turun sampai 50%.
Dilansir dari kanal Youtube Detective Aldo, seorang penulis naskah Reservation Dog yakni Jana Schmieding, pada Juli 2023 ia pernah menulis di akun Twitter-nya bahwa residual yang diterimanya per tiga bulan hanya 0,03 USD. Sedangkan series tersebut didistribusikan ke seluruh dunia.
Jika pemogokan kerja penulis terus berlanjut, dampaknya tidak hanya pada industr film saja namun bisa merambat pada industri lain, mulai dari vendor properti, vendor makanan dan industri-industri lain yang berhubungan langsung dengan produksi film.
Pekerjaan penulis juga semakin terancam karena adanya AI, perusahaan film mulai memangkas jumlah penulis dan menggantinya dengan teknologi AI.
Baca Juga: Wow! Tanzania Kantongi Dana Proyek ADFD Sebesar USD 30 Juta dari Abu Dhabi, Untungnya Apa?
Para penulis memprotes kalau seharusnya pekerjaan manusia memang dilakukan oleh manusia, bukan robot. Sehingga mereka bisa tetap bisa survive.
Sampai saat ini permasalahan dari aksi protes para penulis masih belum selesai.
Namun serikat penulis dan satuan studio mau berdiskusi untuk mencari titik tengah, walaupun serikat penulis mengatakan bahwa mereka belum mau menghentikan aksi mereka dalam waktu dekat.***