

inNalar.com – Indonesia merupakan negara agraris, tanahnya terkenal subur serta sebagian besar penduduknya bekerja di sektor pertanian.
Bahkan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pekerja sektor pertanian di Indonesia berjumlah 40,64 juta orang, atau 29,96% dari total penduduk Indonesia yang bekerja.
Dilansir dari kanal Youtube Ngomongin Uang (24/08/2023), Indonesia memiliki lahan pertanian yang subur seluas 26.300.000 hektar, selain itu lahan agrikulturnya mencapai 68.300.000 hektar atau mencapai 33% dari total wilayah daratan Indonesia.
Dengan tanah subur seluas itu sebenarnya Indonesia sangat kaya potensi, namun mengapa petani Indonesia masih jauh dari kata sejahtera? Bahkan untuk kebutuhan pangan negara kita pun masih banyak impor dari negara lain.
Berikut 5 alasan kenapa petani di Indonesia susah maju dan sejahtera.
1. Kualitas Gabah Belum Sesuai Standar
Sejak awal 2000an Indonesia menjadi importir bahan dasar pangan, contohnya beras. Bulog masih harus impor beras dari negara lain karena kualitas gabah di Indonesia belum sesuai standar.
Sedangkan Bulog harus memiliki minimal 1 juta ton cadangan beras di gudang untuk pangan penduduk Indonesia.
2. Produksi Dalam Negeri Tidak Efisien
Produksi hasil petani di Indonesia masih kurang efisien dan kalah murah dibanding produk impor. Akar masalahnya adalah sistem distribusi dari petani ke konsumen yang perantaranya terlalu panjang.
Sehingga agar harga beras sampai ke konsumen masih terjangkau, petani harus rela menjual gabahnya dengan harga murah.
3. Petani Indonesia Bergantung pada Tengkulak
Ketika panen tiba para tengkulak akan mendatangi petani untuk membeli hasil panen, namun ironisnya hasil panen mereka dibayar sangat murah untuk dijual kembali dengan margin yang tinggi oleh para tengkulak.
Petani juga tidak punya pilihan lain karena tengulak adalah satu-satunya pihak yang mau menerima hasil panen mereka.
Tengkulak juga memudahkan petani untuk mendistribusikan hasil panen mereka, terlebih bagi petani yang tidak memiliki kendaraan.
4. Keterbatasan modal
Keterbatasan modal jadi salah satu kendala bagi petani untuk bisa jalan secara mandiri. Faktanya para petani masih kesulitan mendapatkan akses pinjaman ke bank dan di sisi lain masih sangat sedikit bank yang berani menyalurkan pinjaman ke petani.
Alasannya karena bank masih khawatir akan potensi gagal panen yang membuat kredit macet atau petani gagal bayar.
5. Petani Muda Semakin Sedikit
Jika kita lihat, usia petani saat ini rata-rata di atas 45 tahun, Padahal generasi muda bisa dijadikan tumpuan perekonomian dan kesejahteraan Indonesia, terutama di sektor pertanian.
Sebenarnya masalah pertanian ini cukup kompleks dan banyak hal yang perlu diselesaikan , penyelesaian masalahnya pun perlu didukung oleh banyak pihak mulai dari masyarakat hingga pemerintah.***