Investasinya Capai Rp30 Triliun, Smelter Nikel di Kalimantan Timur Ini Tak Kunjung Dibangun, Apa Masalahnya?

inNalar.com – Rencana pembangunan smelter nikel pertama di Kalimantan Timur diharapkan menjadi pelopor pengolahan sumber daya mineral daerah ini. 

Smelter nikel ini juga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah dari ekspor mineral Kalimantan Timur. 

Meski demikian, ternyata terdapat hambatan dalam pengembangan proyek smelter nikel di provinsi calon ibukota baru ini.

Baca Juga: Jadi Tempat Pembuangan Sampah, Sungai di Kalimantan Utara Ini Ternyata Menyimpan Harta Karun Berharga

Dilansir inNalar.com dari dprd.kaltimprov.go.id, pembangunan smelter di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, mendapatkan protes dari masyarakat.

Selain karena akses jalan yang rusak parah, ternyata pertimbangan pembangunan smelter nikel ini adalah keberadaan pekerja ilegal.

Berdasarkan data kepegawaian, terdapat ratusan pekerja asing di smelter yang statusnya patut dipertanyakan.

Baca Juga: Anggarannya Rp 80 Miliar, Pasar Tertua di Kalimantan Utara Ini Dibangun Ulang Usai Ludes Terbakar

Keberadaan pekerja asing ini tidak hanya berdampak pada keberlangsungan smelter, namun juga ekonomi Kalimantan Timur.

Pemerintah Kalimantan Timur pun berupaya untuk melakukan pertemuan dengan berbagai pihak terkait untuk membahas masalah ini.

Smelter nikel yang berlokasi di Kutai Kartanegara memiliki sedikit keunikan di mana menerima bahan baku dari Sulawesi.

Baca Juga: Miliki 5 Terowongan Gajah! Ternyata Jalan Tol Trans Sumatera Sepanjang 2987 Km Dibangun Untuk Hewan, Benarkah?

Pematangannya sendiri akan diolah di Kalimantan Timur dan menjadi poin menarik agar dapat menggaet investor.

Investasinya sendiri direalisasi dari PT Kalimantan Ferro Industry dengan biaya mencapai 30 triliun Rupiah.

Persiapan pembangunan smelter megah di Kalimantan Timur ini juga akan disediakan pasokan listrik dari PT PLN.

Terdapat listrik dengan kapasitas 800 MV ampere direncanakan menjadi pembantu untuk industri pemurnian mineral di Kalimantan Timur itu.

Penyalurannya sendiri akan dilakukan secara bertahap mulai dari 100 MVA selama 12 bulan hingga tersambung 800 MVA pada tahun 2026.

Pihak PLN menyatakan bahwa pihak mereka telah menginvestasikan biaya untuk pemasok listrik sebesar Rp 139 miliar.

Pembangunan smelter nikel di Kabupaten Kutai Kartanegara dapat mendukung pembukaan lapangan kerja baru.

Diharapkan, smelter nikel yang dibangun dengan bantuan pemerintah dapat membantu untuk menaikkan perekonomian Kalimantan Timur.***

 

 

Rekomendasi