

inNalar.com – PT Dirgantara Indonesia, perusahaan pesawat asal Bandung, rupanya berhasil membuahkan inovasi baru.
Diketahui, perusahaan tersebut telah memproduksi pesawat jenis amfibi yang diberi nama N219.
Pesawat ini merupakan tipe amfibi komersial pertama yang dikembangkan oleh anak bangsa, tepatnya di daerah Bandung Jawa Barat.
Baca Juga: Perubahan Iklim Jadi Penyebab Salju Abadi di Puncak Jaya Wijaya Menuju Punah, Begini Kata BMKG
Dilansir inNalar.com dari laman indonesia.go.id, pesawat ini memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat di permukaan air.
Dengan dukungan dari Kemenko Maritim, pengembangan pesawat N219 Amfibi ini sangat relevan untuk kebutuhan transportasi di negara kepulauan.
Karena disebut ‘amfibi’ pesawat ini memungkinkan untuk beroperasi di berbagai wilayah, termasuk darat, danau, sungai, dan laut.
Pesawat N219 Amfibi juga diharapkan cocok untuk berbagai sektor, seperti pariwisata, pemerintahan, SAR, dan penanggulangan bencana.
Selain itu, penggunaan pesawat amfibi juga sangat berpotensi di dalam sektor pariwisata dan di pulau-pulau terluar, tertinggal, dan terdepan (3T).
Pengembangan pesawat amfibi komersial pertama Indonesia akan mendongkrak berbagai kemungkinan pembangunan infrastruktur lainnya.
Baca Juga: Berdiri Sejak Abad 18, Masjid Fenomenal di Riau Ini Ternyata Dibangun Sultan ke-4 Kerajaan Melayu
Salah satunya adalah amphiport, yaitu bandara untuk pesawat amfibi yang dapat dibangun secara lebih sederhana dan ekonomis.
Tidak tanggung-tanggung, pemerintah pun mengalokasikan dana sebesar 210 miliar untuk pengembangan pesawat darat-laut ini.
Anggarannya diperuntukkan untuk pengembangan model prototype, sehingga dapat berstandar internasional saat pembuatannya rampung.
Prototipe N219 Amfibi memiliki ukuran 17 meter panjang dan 15 meter lebar, serta kecepatan hingga 196 kilometer per jam.
Sebagai perbandingan, pesawat amfibi tersebut memiliki kecepatan empat kali lipat dibandingkan dengan kapal feri.
Penggunaan mesin mobil balap V8 yang ekonomis dalam bahan bakar juga menjadi keunggulan pesawat tersebut.
Pesawat ini juga mampu menempuh jarak hingga 231 km dan menampung beban maksimal 1560 kilogram.
Dalam mengembangkan pesawat ini, PT Dirgantara Indonesia diketahui berkolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung.
Instansi dan perusahaan asal Bandung tersebut diharapkan dapat mengembangkan pesawat yang cocok untuk kondisi kepulauan di Indonesia.***