

inNalar.com – Sumatera Barat terkenal memiliki pabrik semen tertua di Asia Tenggara.
Pabrik semen di Sumatera Barat ini diketahui jadi cikal bakal dari sebuah perusahaan besar di Padang.
Awalnya, pabrik semen di Sumatera Barat ini pendiriannya mulai diinisiasi oleh seorang perwira Belanda berkebangsaan Jerman.
Baca Juga: Kebakaran Rumah di Sunter Jakarta Utara, Satu Keluarga Tewas Akibat Kejadian Ini. Apa Penyebabnya?
Jika ditelusuri, nama dari perwira Belanda berkebangsaan Jerman yang menginisiasi berdirinya pabrik semen di Sumatera Barat tersebut adalah Carl Christophus Lau.
Awalnya, Christopher Lau menemukan batu-batu yang dinilainya sangat menarik di Nagari Lubuk Kilangan, Sumatera Barat.
Setelah itu, ia mengirim bebatuan dari Nagari Lubuk Kilangan Sumatera Barat tersebut ke Negeri Belanda untuk diteliti.
Baca Juga: Satu-satunya di ASEAN, Pabrik Pesawat di Jawa Barat Ini Pegang Banyak Karyawan, Segini Jumlahnya!
Nah, setelah diteliti, bebatuan yang diambil dari Nagari Lubuk Kilangan Sumatera Barat tersebut ternyata mengandung bahan baku pembuatan semen.
Hingga akhirnya Christopher Lau yakin untuk mendirikan pabrik semen di salah satu wilayah Sumatera Barat tersebut.
Dan akhirnya di tanggal 18 Maret 1910, Christopher Lau berhasil mendirikan pabrik semen di Sumatera Barat ini.
Lebih lanjutnya, pabrik semen di Sumatera Barat yang didirikan oleh Christopher Lau ini dinamai NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (NIPCM).
Dari pabrik semen yang didirikan Belanda inilah, salah satu perusahaan semen terbesar di Sumatera Barat berdiri.
Yakni, PT Semen Padang, yang kini mampu kuasai lima unit pabrik di Padang Sumatera Barat, dan satu unit lainnya di Kota Dumai.
Diketahui, total kapasitas produksi semen yang didapat dari lima unit pabrik di Padang Sumatera Barat, dan satu di Dumai juga dinilai cukup fantastis.
Yakni, jika keseluruhannya digabung perusahaan produksi semen di Sumatera Barat ini kapasitasnya mencapai 8,9 juta ton per tahun.
Sedangkan, pendapatan yang bisa diraup oleh perusahaan produksi semen di Sumatera Barat ini mencapai Rp 6,811 triliun di tahun 2020.***