

inNalar.com – Sebuah video di media sosial yang ramai belakang ini menampilkan soal isu pembangunan tol bawah laut yang menghubungkan pulau Jawa dan pulau Bali.
Dalam unggahan tersebut pembangunan tol akan didesain berbentuk kaca dan ketebalan yang akan disesuaikan dengan keamanan.
Tak hanya itu dalam video itu juga disebut bahwa terowongan kaca itu akan menggunakan konsep pondasi Submerged Floating Tunnel (SFT).
Menanggapi hal tersebut, Endra S Atmawidjaja selaku Juru Bicara Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengatakan bahwa pihaknya belum pernah merencanakan tentang pembangunan tol yang menghubungkan kedua pulau itu.
Diluar dari hal itu benarkah ada sebuah mitologi yang menyebutkan bahwa pembangunan yang akan menghubungkan pulau Jawa dan Bali ini dilarang keras? Berikut ulasannya.
Mengapa pulau Jawa dan Bali tidak terhubung melalui jembatan? Meski secara geografis sangat berdekatan satu sama lain, hampir seperti Jawa dan Madura.
Jarak pulau Jawa ke Madura 4,35 km sedangkan jarak pulau Jawa dan Bali sekitar 5 km. Lalu mengapa pemerintah Indonesia tidak membangun jembatan yang menghubungkan kedua pulau tersebut?
Ternyata jawabannya bukan kekurangan dana, tapi hal lain yang berkaitan dengan mitologi Hindu.
Sebenarnya ide pembangunan jembatan pemersatu Selat Bali sudah ada sejak tahun 1960-an.
Adalah Prof. Dr (HC) Ir. Sedyatmo (alm), guru besar Institut Teknologi Bandung (ITB), pionir proyek pembangunan jembatan Jawa-Bali.
Bahkan pada saat itu pemberian nama jembatan tersebut telah dibuat yaitu bernama, Jembatan Tri Nusa Bima Sakti.
Nama ini juga sesuai dengan misi jembatan yang menghubungkan tiga pulau yakni, Sumatera, Jawa, dan Bali.
Karena tingginya gelombang di Selat Bali, maka jembatan itu nantinya juga akan dirancang jauh lebih tinggi dari daratan demi alasan keamanan.
Menurut idenya, jembatan ini akan meningkatkan perekonomian Pulau Jawa dan juga Pulau Bali.
Namun sayang, gagasan tersebut langsung diyakini dan ditolak oleh banyak tokoh masyarakat Bali saat itu.
Saat itu, Presiden Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jembrana, I Komang Arsana langsung menolak keras gagasan pembangunan jembatan Jawa-Bali.
Alasan pertama, menurut I Komang Arsana, mitos Dang Hyang Sidhimantra dengan jelas menunjukkan bahwa keterkaitan Jawa dan Bali berpotensi merusak tatanan sosial masyarakat Bali yang terkenal sangat kaya akan budaya dan kehidupan bermasyarakat.
Alasan kedua, dalam mitologi Hindu, dua pulau harus dipisahkan oleh laut dan selat untuk menyaring hal-hal negatif, pengaruh buruk yang ingin masuk ke Pulau Bali. ***