Hujan Buatan Dilakukan BMKG untuk Mengurangi Polusi Udara, Bagaimana Cara Membuat Hujan Buatan?

inNalar.com – Setelah kemarau berkepanjangan, wilayah Jabodetabek minggu malam 27 Agustus 2023 diguyur Hujan.

Menanggapi hal itu Dwikorita Karnawati selaku Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkap hujan yang turun tersebut merupakan hasil dari modifikasi cuaca atau hujan yang dibuat.

Hujan buatan ini dilakukan oleh BMKG dengan tujuan mengurangi masalah polusi udara di wilayah ibu kota yang belakangan ini sedang terus meningkat tajam.

Lalu apa itu hujan buatan dan bagaimana cara membuatnya, simak selengkapnya sebagai berikut.

Penciptaan hujan buatan dilakukan dengan cara menaburkan benih ke dalam awan (Cloud Seeding) terlebih dahulu menggunakan bahan yang bersifat higroskopik (menyerap air) untuk meningkatkan terbentuknya tetesan air hujan di dalam awan.

Baca Juga: Pangkas Umur Hingga 5,5 Tahun! Polusi Udara di Jakarta Semakin Bahaya Meski Sudah Dibuat Hujan Buatan?

Bahan-bahan kimia tersebut ditaburkan yang berdampak pada awan untuk melakukan proses kondensasi, sehingga terbentuklah awan yang lebih besar

Setelah bahan kimia ditaburkan, bubuk urea nantinya akan ditaburkan secara merata di awan.

Bubuk ini berwarna abu yang berfungsi sebagai membantu awan untuk membentuk menjadi lebih besar.

Setelah awan telah terbentuk, bahan kimia kembali ditaburkan di awan dengan berbentuk larutan khusus, yaitu campuran dari air, ammonium nitrat dan urea. Nantinya akan membentuk butiran air yang lebih besar.

Penerapan teknologi ini merupakan campur tangan manusia terhadap proses cuaca yang terjadi di atmosfer.

Baca Juga: Atasi Polusi Udara DKI Jakarta, Segini Potensi Biaya Guna Kerahkan Hujan Buatan, Tembus Rp200 Juta Perhari?

Hal ini untuk mempercepat penumpukan tetesan air yang menyatu menjadi awan dan kemudian jatuh sebagai hujan.

Stimulus ini memerlukan sistem pengiriman, maka sistem inilah yang digunakan untuk mengirimkan material ke awan.

Hal tersebut dilakukan melalui pesawat terbang yang dimodifikasi khusus untuk mengangkut awak dan peralatan penyemaian berupa garam halus yang selanjutnya akan disemai di awan.

Setidaknya ada lima pesawat yang tersedia saat ini dan dimaksudkan untuk mendukung misi utama UPT Hujan Buatan. Di antaranya adalah pesawat Casa NC212/200 yang dirancang khusus sebagai pesawat unggulan penyemaian (versi Rain Maker).

Menurut sumber Proyek TMC atau hujan buatan ini dimulai pada tahun 1977 ketika Presiden Soeharto memperhatikan bahwa pertanian Thailand sudah cukup maju.

Kemajuan pertanian Thailand diketahui karena terpenuhinya kebutuhan air pertanian yang didukung oleh perubahan iklim.

Baca Juga: BMKG Klaim Bisa Kendalikan Cuaca untuk Datangkan Hujan ke Jakarta, Netizen: Harusnya Belajar dari China

Presiden Soeharto kemudian mengutus Menteri Riset dan Teknologi BJ Habibie untuk mempelajari TMC. Pada tahun 1977, proyek percobaan hujan buatan dimulai. Saat itu penerapannya masih mendapat dukungan dari Thailand.

Tujuan dari curah hujan buatan saat itu adalah untuk mendukung sektor pertanian dengan mengisi waduk-waduk strategis untuk kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) atau irigasi.***

Rekomendasi