

InNalar.com – Fenomena perubahan iklim berupa naiknya permukaan laut dan tanah yang terus mengalami penurunan, beberapa daerah yang berisiko tenggelam bahkan sudah ada yang tenggelam.
Sebagai negara kepulauan, perubahan iklim tentunya akan memberikan dampak yang sangat besar terhadap wilayah pesisir.
Abrasi atau pengikisan dari gelombang laut yang terjadi di pesisir pantai menyebabkan permukaan air laut mengalami peningkatan sekitar 0,8 hingga 1,2 cm (cm) per tahun dan diperkirakan bahwa akan ada beberapa wilayah Indonesia secara perlahan akan terendam dan tenggelam secara permanen.
Baca Juga: Indonesia Sering Disebut Konoha dan Wakanda oleh Netizen, Ternyata Begini Penyebab Utamanya
Salah satu kota yang mulai terendam air adalah Pekalongan di Jawa Tengah. Badan Geologi Kementerian ESDM mengungkapkan terjadi penurunan muka tanah di Pekalongan sekitar 6 cm pertahun di sekitar pesisir Pekalongan.
Hal ini dikhawatirkan semakin parah jika pemerintah setempat tidak melakukan penanganan dengan tepat dan cepat.
Beberapa upaya, seperti pembangunan tanggul meninggikan jalan-jalan di pemukiman, dan para warga juga telah meninggikan lantai rumahnya sebanyak 3 kali sejak tahun 2010.
Baca Juga: Bikin Nagih! Ini 5 Tempat Makan Rekomended yang Paling Ramai di Medan, Dijamin Murah dan Enak
Beberapa kali upaya dilakukan agar air tidak masuk kerumah, namun tetap saja permukaan air tetap tinggi dibanding pemukiman warga, mengakibatkan air rob yang masuk ke sungai melebar sampai ke pemukiman warga hampir setiap hari.
Bahkan daerah yang tak pernah terkena rob dan jauh dari pesisir pantai saat ini sudah mulai tergenang.
Tak hanya Pekalongan beberapa kota yang sudah mulai tenggelam adalah, Semarang, Demak, Bekasi dan Karawang.
Daerah yang berada di pesisir tersebut sudah mulai terus-menerus terkena banjir rob setiap tahunnya. Berbagai usaha juga sudah dilakukan, seperti peninggian jalan dan lantai rumah.
Kenaikan permukaan laut di Indonesia, yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia dengan panjang sekitar 18.000 km (km) akan mempengaruhi 160 juta warga pesisir.
Selain itu, perubahan iklim juga berdampak pada ketahanan air di sebagian besar wilayah Indonesia, yang diperkirakan akan mengurangi curah hujan sekitar 1 hingga 4% pada tahun 2034.
Hal ini mengakibatkan berkurangnya pasokan air minum dan kemungkinan besar akan menimbulkan konflik alokasi air, terutama di wilayah dimana sektor pertanian, industri, dan energi saling tumpang tindih.
Di sektor pertanian, dampak perubahan iklim berarti siklus balik perubahan iklim akan menjadi lebih pendek.
Salah satunya adalah siklus El Niño-Osilasi Selatan (perubahan siklus sistem atmosfer samudera di Pasifik tropis yang mempengaruhi pola cuaca di seluruh dunia) yang diperkirakan akan terjadi 3 kali dalam 7 tahun.
Namun hal tersebut bisa juga akan lebih pendek setelah 7 tahun. bertahun-tahun. setiap 2 – 5 tahun.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan El Niño tahun ini akan berlangsung lama hingga akhir Desember 2023.
Oleh karena itu, dampak fenomena ini harus diminimalkan untuk menghindari kekurangan air, risiko kebakaran hutan dan lahan, serta berkurangnya hasil pangan.
Perubahan iklim juga membuat penentuan waktu tanam menjadi sulit karena peralihan ke puncak musim hujan.
FAO (Food and Agriculture Organization of the United Nations) memperkirakan produksi padi di Indonesia akan menurun akibat El Niño sebesar 1,13 hingga 1,89 juta ton yang akan menurunkan pendapatan petani sebesar 9 hingga 20%. ***