Bukan Sekadar Memberi: Relevansi dan Manfaat Zakat dalam Menggali Hakikat Kehidupan di Islam

InNalar.com – Pada banyak tradisi dan keyakinan, konsep kedermawanan sering menjadi hal yang mendarah daging, Islam tidak terkecuali.

Di Islam, praktek kedermawanan memiliki wujud konkrit yang dikenal sebagai zakat.

Satu hal untuk memahami zakat, kita perlu beranjak dari pandangan yang hanya melihatnya sebagai “pajak agama”, dan melihat lebih dalam bagaimana konsep ini menjadi bagian integral dalam mengekspresikan rasa empati dan tanggung jawab sosial.

Zakat dalam Islam bukan sekadar tindakan memberikan sejumlah dana.

Ada filosofi yang mendalam di baliknya – sebuah cara untuk menjaga aliran energi positif dan menciptakan keseimbangan dalam masyarakat.

Baca Juga: Perlukah Zakat Fitrah Untuk Bayi yang Baru Lahir di Malam Idul Fitri? Buya Yahya: Ingat Dua Hal ini

Zakat, dalam bahasa Arab, artinya “tumbuh”, “berkembang”, atau “penyucian”.

Orang yang memberikan zakat secara esensial membersihkan harta mereka, dan dalam proses itu, mereka juga membantu memperluas cakupan kemakmuran dan keadilan sosial.

Melalui zakat, mereka bukan hanya memberi, tapi juga menerima – bukan dalam bentuk materi, tetapi dalam bentuk spiritual dan emosional.

Praktiknya, siapa pun yang memenuhi nisab, atau batas minimum jumlah kekayaan yang dipersyaratkan, diwajibkan untuk memberikan sebagian, sekitar 2,5%, dari kekayaan mereka untuk zakat setiap tahun.

Baca Juga: Gus Baha Anjurkan Amil Zakat Perhatikan Dua Hal ini Sebelum Ambil Bagiannya, Simak Penjelasannya

Namun, jumlah ini bukanlah bilangan pasti yang dipahat di batu – Islam mendorong generositas dalam semua bentuk.

Seiring berjalannya waktu, banyak di antara kita yang menjadi saksi bagaimana zakat memberikan harapan dan membantu meringankan beban bagi mereka yang kurang beruntung.

Tetapi, bukan hanya mereka yang menerima yang merasakan manfaatnya. Bagi mereka yang memberikan, zakat menawarkan peluang untuk refleksi diri, mengingatkan kita tentang tanggung jawab kita terhadap sesama dan masyarakat yang lebih luas.

Zakat tidak hanya mendorong redistribusi kekayaan, tetapi juga mendorong munculnya siklus kedermawanan: apapun yang kita beri akan kembali kepada kita, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Baca Juga: Inilah 8 Golongan Penerima Zakat Fitrah di Bulan Ramadhan Menurut Ustadz Adi Hidayat

Melalui zakat, kita diasah untuk menjadi individu yang lebih empatik, lebih dermawan, dan membantu menciptakan masyarakat yang lebih adil dan inklusif.

Melalui praktik zakat, kita bertemu dengan perasaan universal yang kita bagi: keinginan untuk membantu, untuk berkontribusi, dan untuk menjadi bagian dari suatu komunitas yang saling peduli. 

Baik Anda seorang profesional yang sukses, mahasiswa, atau pengusaha, Anda memiliki peran dalam siklus kedermawanan ini. Jadi, bagaimanakah peran Anda?.***

Rekomendasi