

InNalar.com – Seperti yang diketahui, sebenarnya Indonesia memang memiliki kekayaan alam, seperti tambang yang kaya.
Sebab itu, maka dibangunlah smelter di Sulawesi Utara, guna meningkatkan harga jual dari hasil tambang yang diperoleh.
Adapun smelter atau pabrik pengolahan tambang yang ada di Sulawesi Utara adalah smelter nikel.
Menariknya, smelter nikel ini memiliki kapasitas produksi 1,8 juta ton per tahun.
Dengan begitu, tentu hasil nikel yang diperoleh Indonesia akan semakin naik, karena kini pengolahannya tidak lagi dilakukan di luar negeri.
Sekedar informasi, pemerintah Indonesia memiliki rencana dalam memberhentikan ekspor hasil tambang yang masih mentah.
Pasalnya, selama bertahun-tahun ini, Indonesia selalu mengekspor hasil tambangnya dalam bentuk mentah, sehingga nilai jualnya tidak terlalu tinggi.
Sedangkan jika bijih nikel lalu diolah menjadi feronikel, maka nilai jualnya mampu meningkat 14 kali.
Apalagi jika bijih nikel tersebut diolah menjadi billet stainless steel, nilainya akan meningkat mencapai 19 kali lipat.
Dilansir InNalar.com dari presidenri.go.id, Pembangunan smelter nikel di Sulawesi Utara ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menghentikan ekspor bijih nikel.
Adapun untuk anggaran yang dihabiskan dalam membangun smelter di Sulawesi Utara tersebut, investasinya sampai habiskan sebanyak Rp. 42,9 triliun.
Smelter di Sulawesi Utara ini merupakan bagian dari proyek strategis nasional (PSN), yang dibangun oleh PT Gunbuster Nickel Industry (GNI).
PT GNI sendiri adalah perusahaan baja asal Cina, yang juga melakukan operasi pemurnian dan pertambangan mineral di Kawasan Ekonomi Industri Xiangshui, Kota Yancheng, Provinsi Jiangsu.
Seperti yang telah dijelaskan di atas, Indonesia memiliki rencana dalam menghentikan ekspr hasil tambang yang masih mentah.
Jika rencana tersebut terlaksana dengan baik, maka bagi mereka yang menginginkan hasil tambang secara mentah haruslah mendirikan industri di Indonesia.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi