Desa Tua di Pulau Bali Ini Punya Karakteristik Destinasi Budaya Zaman pra-Majapahit, Wisatawan Auto Nostalgia

inNalar.com – Desa Tenganan yang terletak di sisi Timur Pulau Bali ini disebut sebagai desa tua.

Dinamai dengan desa tua karena memiliki karakteristik dalam destinasi budaya pada masa kebudayaan Pra-Majapahit.

Masyarakat Bali lebih mengenalnya sebagai desa Bali Aga yang berarti desa tua/desa kuno.

Baca Juga: Susahkan Pemilik Usaha Akibat Perketat Kebijakan Kenakan Jilbab, Iran Ciptakan Kebijakan Diskriminatif?

Dikutip dari berbagai sumber, masyarakat desa Bali Aga memiliki gaya hidup yang masih berpedoman pada peraturan adat istiadat dari para leluhur.

Salah satu alasan disebut sebagai desa Bali Aga, karena desa ini berada di tengah-tengah perbukitan.

Bahkan nama dari Desa Tenganan sendiri memiliki arti tengah, karena letaknya berada di tengah perbukitan.

Baca Juga: Waduk Riam Kiwa, Proyek Pembangunan Infrastruktur di Kalimantan Tengah yang Bakal Habiskan 2 Triliun Rupiah!

Menurut I Ketut Sudiastika, selaku Kepala Desa/Prebekel Desa Tenganan dikutip dari Youtube Bpnb Bali menjelaskan jika ada beberapa sumber peneliti yang datang ke Desa Tenganan, dilihat dari segi sudut pandang/wawasan mereka menyebutkan bahwa Tenganan berasal dari kata tengah.

Kata Tenganan dalam bahasa bali berasal dari kata Ngatengahan.

Sebenarnya asal mulanya Desa Tenganan ini berada di pesisir.

Baca Juga: Eksotis Banget! Pulau di Kabupaten Pesawaran Lampung Ini Waktu Tempunya Cuma 1 Jam dari Bandar Lampung

Lama kelamaan akhirnya pindah karena adanya abrasi dan sebagainya.

“Pindah ke wilayah yang agak ketengah. Perpindahan ke tengah itulah yang disebut Ngatengahan,” ucap I Ketut Sudiastika saat menjelaskan.

Berada di tempat yang bisa disebut terpencil, membuat desa Bali Aga memiliki budaya yang masih terjaga dari pengaruh luar.

Pada 1343 Masehi, para imigran dari Kerajaan Majapahit yang berasal dari Pulau Jawa masuk ke Bali.

Bali Aga yakni penduduk asli Bali di pegunungan, awalnya tidak mengenal agama.

Mereka hanya menyembah leluhur yang sering disebut sebagai Hyang.

Hal tersebut berlangsung sampai abad ke-4 Masehi, saat Resi Markandya dan beberapa pemuka Hindu masuk ke Bali.

Perbedaan penduduk Bali Aga dengan keturunan Majapahit terletak pada tradisi budaya Hindunya.

Para suku Bali Aga tidak mengenal adanya upacara Ngaben atau membakar jasad orang yang meninggal.

Mereka biasanya akan melakukan Baye Tanem yaitu melakukan upacara adat dengan mengubur jasad orang yang meninggal.

Masyarakat desa Bali Aga menganut sistem endogamy.

Masyarakat sekitar memiliki hukum adat yang dikenal dengan sebutan awig-awig.

Hukum adat (awig-awig) yang dimaksud adalah warga desa Tenganan harus menikah dengan warga desa Tenganan juga.

Jika mereka melanggar, maka diharuskan untuk keluar dari Desa Tenganan.***

Rekomendasi