

inNalar.com – Rumah Betang merupakan rumah adat khas Kalimantan Barat yang dihuni oleh mayoritas Suku Dayak.
Kebanyakan orang mengenal Rumah Adat Betang sebagai Rumah Panjang dan Rumah Padang.
Rumah Adat Betang hingga saat ini masih dihuni oleh Suku Dayak Taman, karena rumah tersebut merupakan peninggalan nenek moyang mereka yang sudah didirikan sejak tahun 1942.
Rumah adat Kalimantan tidak hanya dijadikan sebagai hunian tetap, tapi juga sebagai pusat kebudayaan dan tempat berkumpul seperti penentuan sanki dan norma adat.
Di Kalimantan Barat ada yang namanya Rumah Adat Betang Lunsa Hilir yang sudah beberapa kali direnovasi.
Rumah Adat Betang Lunsa Hilir ini masuk kedalam aset Cagar Budaya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kapuas Hulu.
Dimana kebudayaan daerah Kapuas Hulu terdiri dari dua etnis yaitu Dayak dan Melayu dengan tradisi seni dan budaya yang dimilikinya.
Selain itu juga punya daya tarik tersendiri sebagai objek wisata dalam terciptanya Sapta Pesona Industri Pariwisata.
Rumah Adat Betang Lunsa Hilir masuk kedalam Cagar Budaya Peninggalan Bersejarah di kabupaten Kapuas Hilir dengan jenis peninggal R. Betang Lunsa Hilir.
Setelah mengalami beberapa kali perbaikan, Rumah Adat Betang Lunsa Hilir kembali direnovasi menggunakan dana APBN senilai Rp 20,3 Miliar.
Pengerjaan renovasi Rumah Adat Betang Lunsa Hilir tengah berjalan sejak April 2023 dan akan rampung di akhir November 2023.
Pada Minggu, 3 September 2023 Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono beserta Ketua Komisi V DPR RI Lasarus dan Bupati Kapuas Hulu Fransiscus Diaan melihat perkembangan renovasi Rumah Betang Lunsa Hilir tersebut.
Dilansir dari laman website pu.go.id, Basuki menyampaikan bahwa kontruksinya sudah mencapai 46,49% dan akan ada total 30 pintu di Rumah Adat Betang Lunsa Hilir.
Dilakukan kembali renovasi Rumah Adat Betang Lunsa Hilir karena untuk pelestarian bangunan gedung cagar budaya.
Sebelumnya, perbaikan yang telah dilakukan adalah merehabilitasi selasar teras di bagunan utamanya, rehabilitasi atap bangunan utama, dan membangun bangunan tambahan yang sudah termasuk dengan dapur komunal.
Semakin banyak anggota keluarga yang tinggal di satu rumah, maka akan menambah nilai baik pada rumah adat khas Kalimantan tersebut.***