Kementerian PUPR Revitalisasi DI Way Tebu untuk Irigasi Warga Pringsewu, Telah Berdiri Sejak Lama Ternyata

inNalar.com – Daerah irigasi atau DI tentunya memiliki manfaat yang sangat besar bagi masyarakat.

Manfaat tersebut dapat dirasakan secara signifikan bagi masyarakat yang mata pencahariannya bertani, contohnya adalah masyarakat Kab. Pringsewu.

Salah satu manfaat dari daerah irigasi (DI) adalah melancarkan aliran air ke lahan persawahan.

Baca Juga: Menag Yaqut Himbau Masyarakat agar Tidak Pilih Capres 2024 yang Seperti Ini: Lihat Betul Rekam Jejaknya

Selain itu, daerah irigasi (DI) juga memiliki manfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Oleh karena itu, pembangunan atau revitalisasi daerah irigasi yang sudah ada sangatlah penting.

Salah satu contohnya adalah revitalisasi pada Daerah Irigasi atau DI Way Tebu oleh Kementerian PUPR.

Baca Juga: Bendungan Karian Banten: Bendungan Terbesar ke-3 di Indonesia yang Menghabiskan Dana Rp1,3 Triliun

DI Way Tebu sendiri merupakan daerah irigasi peninggalan Belanda.

Daerah irigasi ini dibangun pada tahun 1926 dan terbagi menjadi tiga daerah irigasi.

Ketiga daerah irigasi tersebut memiliki tahun pembangunan yang berbeda-beda.

Baca Juga: Daftar Mobil Listrik untuk KTT ke-43 ASEAN JAKARTA 2023, Partisipasi Industri Otomotif di Tanah Air

Daerah yang pertama adalah DI Way Tebu I-II yang dibangun pada 1926.

Yang kedua adalah DI Way Tebu III yang dibangun pada tahun 1927.

Dan yang terakhir adalah DI Way Tebu IV yang dibangun pada tahun 1938.

Daya tampung dari masing-masing daerah DI Way Tebu ini bisa mencapai 180.000 meter kubik.

Ketiga daerah itu juga berfungi untuk menyediakan air irigasi dengan potensi 5.298 Hektar.

Namun, saat ini fungsionalitasnya hanya sekitar 4.188 hektar saja.

Luas dari masing-masing daerah DI Way Tebu ini juga berbeda-beda.

DI Way Tebu I-II memiliki luas bendung sekitar 4 hektar.

Sedangkang DI Way Tebu III memiliki luas bendung sekitar 5 hektar.

Yang terakhir DI Way Tebu IV memiliki luas bendung sekitar 2 hektar.

Revitalisasi DI Way Tebu ini dimulai pada tahun 2019.

Dengan dilakukan revitalisasi ini, pola tanam di daerah yang masuk dalam sistem DI Way Tebu meningkat dari 150% menjadi 180%.***

Rekomendasi