

inNalar.com – Bisa dibilang tragedi penenggelaman kapal perang Onrust milik Belanda cukup menegangkan.
Dimana saat itu kapal perang ini dilengkapi dengan meriam pelempar peluru dengan berat 24 pond dan enam senapan mesin yang berputar.
Kapal perang ini tergolong ke dalam jenis kapal uap dan dikabarkan tenggelam di sungai Barito tepatnya di Muara Teweh Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah.
Dikutip inNalar.com dari Kindai Etam: Jurnal Penelitian Arkeologi dengan judul Penelitian dan Pengembangan Situs Arkeologi Bawah Air di Kalimantan oleh nFn Hartatik tahun 2020 menyatakan arus deras yang ada di sungai tersebut membuat Kapal Onrust tidak muncul ke permukaan.
Bangkai Kapal Onrust akan secara jelas nampak ke permukaan selama musim kemarau panjang berlangsung dengan kondisi air yang sungai yang surut.
Baca Juga: Kota Makhluk Abadi di Bumi! Begini Misteri Tempat Tinggal Makhluk Abadi di Muka Bumi
Namun tidak hanya dibiarkan terbengkalai begitu saja, menurut catatan sejarah Kapal Onrust sudah pernah dilakukan ekskavasi beberapa kali.
Penelitian di tahun 1995 yang dilakukan Balai Arkeologi Banjarmasin didasari atas viralnya berita dari media dan masyarakat mengenai penampakan bangkai kapal yang terlihat jelas saat air sungai sedang surut.
Kapal Onrust bermesin uap yang berlayar ke Hindia Belanda di tahun 1846 membawa 10 perwira termasuk Letnan Laut Van der Velde, Letnan Benger C, Letnan I Laut Van Perstel, dan Letnan II Laut Fredeick Hendrik Van der Kop.
Baca Juga: Kapal Tradisional Termewah Ini Ada di Labuan Bajo! Begini Fakta dan Asal Usul Kapal Pinisi!
Kapal Onrust ini digadang-gadang terhebat pada zamannya dengan daya mesin uap 70 tenaga kuda (PK), kecepatan kapal 81.4 knots dengan 33 kali putaran pada permenit (rpm) pada mesinnya.
Sejarah penenggelaman Kapal Onrust dilakukan oleh para pejuang suku Dayak dan Banjar yang dipimpin Tumenggung Surapati (Pendukung Antasari).
Di bawah kepemimpinannya, seluruh marinir Kapal Onrust yang berjumlah sepuluh orang beserta 43 anak buah kapalnya tewas terbunuh dan ikut tenggelam meski perlengkapan senjata di kapal sangatlah lengkap.
Salah seorang pejuang membuat kapal ini tenggelam salah satunya dengan membuka keran air di ruang palka.
Kapal ini tenggelam pada 26 Desember 1859 dan membuat kerugian besar di pihak Belanda, hingga Belanda menyatakan 1 Januari 1860 sebagai hari berkabung nasional.
Tenggelamnya Kapal ini menjadi bukti keberhasilan para pejuang untuk mempertahankan wilayahnya tanpa membedakan suku dan agama.
Sekaligus menjadi bukti hubungan keluarga yang terjalin antara Antasari dan Surapati lebih kuat daripada uang yang ditawarkan oleh Belanda.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi