

inNalar.com – Digadang-gadang akan menjadi ikon Sillicon Valley Indonesia, Kejelasan dari mega proyek Bukit Algoritma masih dipertanyakan.
Pasalnya, proyek yang ditafsirkan menghabiskan anggaran sebesar Rp 18 Triliunan tersebut sudah mengalami groundbreaking sejak tahun 2021.
Beradar beragam isu yang menyelimuti dari terancamnya mangkrak proyek triliunan tersebut.
Isu terancamnya mangkrak menyebabkan kerugian negara, serta terendus adanya dugaan korupsi mulai memanas di media sosial saat ini.
Semua bermula dari salah satu anggota VI DPR RI Amin AK yang menyoroti adanya keterlibatan BUMN Amarta Karya dalam proyek tersebut.
Beliau beranggapan bahwa mangkraknya proyek bukit algoritma tetap dapat berpotensi membawa beban financial bagi negara meskipun anggarannya tidak memakai APBN.
Hal tersebut dijelaskan dengan membandingkan proyek LRT Palembang dan bandara Kertajati yang awalnya juga tidak menggunakan anggaran APBN.
Namun, selama proyek berlangsung terdapat masalah yang berakhir dengan negara turun tangan menyuntikkan modal untuk kelanjutan proyek.
Karena adanya keterlibatan BUMN dalam mengerjakan mega proyek triliunan mereka akan menerbitkan surat utang dengan jaminan pemerintah.
Baca Juga: WOW! Kota Ini Miliki Hampir 1000 Taman Aktif yang Bisa Kamu Kunjungi, Bisa Tebak di Mana?
Sebaliknya, Budiman Sudjatmiko menepis berita miring tersebut dan menegaskan bahwa proyek tersebut tengah berjalan dan sudah berada di tahap 1.
Beliau menjelaskan bahwa proyek tersebut masuk dalam kategori proyek jangka panjang 10 tahun dan tidak ada kaitannya dengan APBN.
Proses pembangunannya pun sudah berjalan mencapai 10-15% terfokus pada tahap revitalisasi gedung terbengkalai.
Selain itu, beliau juga tidak mengelak bahwasanya proyek bukit algoritma mengalami keterlambatan dari sebelumnya ditargetkan akan rampung pada tahun 2014.
Keterlambatan tersebut disebabkan oleh dana investor yang sejak groundbreaking di tahun 2021 baru mendapatkan dana investasi kurang dari Rp 1 Triliun.
Sebaliknya, secara keseluruhan proyek bukit algoritma tersebut dapat ditaksir akan menghabiskan dana kurang lebih sebesar Rp 18 Triliun.
Dan juga, adanya faktor pendukung adanya keterlambatan pengoperasian seksi II Tol Bogor-Ciawi-Sukabumi (Bocimi) yang merupakan nilai jual dari proyek tersebut***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi