Namanya Diabadikan Jadi Bandara Terbesar di Kalimantan Selatan, Siapa Sosok Syamsudin Noor? Simak Biografinya!

inNalar.com – Siapakah sosok yang namanya abadi menjadi nama bandara di kota Banjarbaru Kalimantan Selatan?

Ya, Syamsudin Noor merupakan pilot pionir kelahiran Alabio, Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).

Namun, Syamsudin Noor merupakah tokoh yang tidak terkenal di Banua.

Baca Juga: Dibangun Selama 1,5 Abad! Benteng Bersejarah di Riau Melibatkan Salah Satu Pahlawan Nasional, Sudah Kesana?

Sejak kecil ia bersekolah di Pulau Jawa.

Diketahui, pada masa penjajahan, hanya keturunan keluarga kerajaan atau anak saudagar kaya saja yang boleh bersekolah di sekolah Belanda.

Pada buku Apa dan Siapa dari Utara yang ditulis Yusni Antemas (jurnalis kawakan), dijelaskan bahwa Sjamsudin (ejaan lama) lahir di Alabio pada 5 November 1924.

Sjamsudin merupakan anak ketiga dari enam bersaudara.

Ayahnya adalah seorang ulama yang disegani, Kiai Abdul Gaffar.

Baca Juga: 8 Monumen dan Tugu di Surabaya Ini Bertema Perjuangan Pahlawan, Bisa Menjadi Objek Wisata Sejarah Loh!

Sedangkan ibunya merupakan keturunan bangsawan Pulau Luat, Putri Ratna Wilis.

Pada tahun 1936 hingga 1942, Sjamsudin bersekolah di Sekolah Mear Uitgebreid Lager Orderwijs (MULO) Bogor.

Kemudian sekitar tahun 1945 melanjutkan studi di Algemene Middelbaar School (AMS) di Yogyakarta.

Dilanjutkan dengan mengikuti sekolah penerbangan yang dicanangkan oleh Perwira III Petit Muharto Kartodirdjo.

Pemberian lisensi pilot olehnya ditandai dengan diterimanya brevet tipe II pada tahun 1947.

Baca Juga: Berusia 72 Tahun, Tugu Pahlawan di Jawa Timur Ini Jadi Kenangan Pertempuran 10 November

Dua tahun kemudian, Januari 1949 hingga 1950, Letnan TNI AU Sjamsudin Noor bekerja di Indonesia Airways (pendahulu Garuda Indonesia).

Saat itu Alabio sudah dikenal sebagai kampung terpelajar.

Sjamsudin Noor lahir di Desa Teluk Betung dan sempat menempuh pendidikan tinggi.

Tentunya butuh “keistimewaan” untuk bisa bersekolah sampai Jogja.

Mengenai medan pertempuran, peran Letda Sjamsudin terjadi pada saat pecahnya invasi militer kedua, yaitu ketika sekutu yang didukung Belanda menyerbu Indonesia.

Pilot-pilot perintis di luar negeri, termasuk Letnan Dua Sjamsudin, kembali mempersenjatai para pejuang Partai Republik.

Dikisahkan, pada Minggu, 26 November 1950 pukul 17.00 WIB, pesawat Dakota T-446 yang dipiloti Sjamsudin mengalami mati mesin saat terbang di sekitar Gunung Galunggung, Jawa Barat.

Selain cuaca buruk, pesawat tersebut jatuh di lereng gunung, sekitar 15 kilometer tenggara Malangbong Ciawi Tasikmalaya.

Baca Juga: Punya Ruang Bawah Tanah Sedalam 7 Meter, Tugu di Kota Pahlawan Ini Jadi Landmark Utama Provinsi Jawa Timur

Syamsudin kemudian meninggal dunia.

Dianggap sebagai salah satu pionir lahirnya Indonesia Airways, ia dimakamkan secara militer di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung pada 29 November 1950.

Maka tak heran jika nama Lettu Sjamsudin dipakai sebagai nama bandara terbesar di Kalimantan Selatan.

Sementara itu, beberapa bandara di Indonesia juga menggunakan nama pilot perintis Indonesia.

Sebut saja dia Adisutjipto di Yogyakarta, Adi Soemarmo di Solo, Abdul Rahman Saleh di Malang, Husein Sastranegara di Bandung, dan Halim Perdanakusuma di Jakarta.***

Rekomendasi