Pembangunannya Sampai Tenggelamkan 9 Desa, Bendungan Riam Kanan Kini Jadi yang Terbesar di Kalimantan Selatan

inNalar.com – Bendungan adalah sebuah infrastruktur yang sangat berguna untuk menjaga ketersediaan air di suatu wilayah.

Salah satu fungsi bendungan juga adalah untuk menampung air hujan dan mengalirkan air ke masyarakat.

Beberapa bendungan tersebut tentunya juga memiliki ukuran yang berbeda-beda.

Baca Juga: Mulanya Disebut Proyek Gagal, LRT Palembang Senilai Rp10,9 T Ini Sukses Layani 3 Juta Penumpang Karena…

Beberapa bendungan mendapat predikat sebagai bendungan terbesar.

Di wilayah Kalimantan Selatan sendiri bendungan terbesarnya adalah Bendungan Riam Kanan.

Bendungan Riam Kanan berada di Desa Aranio, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Baca Juga: Luasnya 405.900 ha, Kabupaten Termuda di Kalimantan Utara Ini Tak Miliki Aset Pemerintahan Selama 14 Tahun

Sebenarnya bendungan Riam Kanan ini umurnya sudah sangat tua.

Bendungan ini dibangun pada tahun 1958 dan diprakarsai oleh seorang Pahlawan Nasional, Ir. Pangeran Muhammad Noor.

Namun, pembangunan bendungan ini secara resmi baru dilakukan pada tahun 1963.

Baca Juga: Profil dan Biodata Sukamta Bupati Tanah Laut yang Larang Cak Imin Membuka Acara MTQ Internasional

Pembangunan ini selesai 10 tahun kemudian, yakni pada tahun 1973.

Pada pembangunannya, bendungan ini dibangun oleh Menteri PUPR pada saat itu dengan pengawasan konstruksi dari Hazam Gumi Jepang.

Kontraktor dari proyek ini Nippon Kokkan dan instalasi kelistrikannya dikerjakan oleh Fuji Electric dan Toyomenka.

Selanjutnya, jaringan dan stasiun transmisi yang ada di Bendungan Riam Kanan dibangun oleh PT Wijaya Karya.

Pembangunan bendungan ini dilakukan dengan membendung 8 sungai yang bersumber dari Pegunungan Meratus.

Bendungan Riam Kanan diresmikan pada tahun 1973 oleh Presiden kedua Indonesia, Presiden Soeharto.

Sebelum dibangunnya Bendungan Riam Kanan ini, masyarakat Banjar tidak memiliki PLTU atau PLTA.

Mereka mendapat sumber listrik dari PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel).

Baru setelah dibangunnya Bendungan Riam Kanan, masyarakat Banjarmasin akhirnya memiliki PLTA.

Namun, pembangunan bendungan ini tidak semulus yang dibayangkan.

Pembangunan mega proyek ini sempat terhenti karena peristiwa G 30 S PKI pada tahun 1965 hingga 1973.

Selain itu, juga terdapat kisah sedih dibalik pembangunan bendungan terbesar di Kalimantan Selatan ini.

Pasalnya, dalam pembangunannya, bendungan ini harus menenggelamkan 9 desa di Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar.

Penduduk dari 9 desa yang tenggelam tersebut pada akhirnya harus menyebar beberapa daerah yang berbeda-beda.***

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]