Tak Tolak Modernisasi, Kampung Adat Ciptagelar di Sukabumi Jawa Barat Ini Sudah Ada Sejak Kerajaan Siliwangi?

inNalar.com – Kampung Adat Ciptagelar berada di kawasan Pegunungan Halimun, Kampung Sukamulya, Desa Sinar Resmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi.

Masyarakat yang berada di Kampung Adat Ciptagelar masih memegang teguh adat istiadat yang diturunkan oleh nenek moyang mereka.

Ciptagelar adalah salah satu kampung adat yang masuk ke kesatuan adat Banten, yang masih memegang kuat adat istiadat sejak 640 tahun yang lalu.

Baca Juga: Masyarakat Suku Dayak Kalimantan Terima Hak Atas Hutan Adat Seluas 70.000 Hektar dari Pemerintah Indonesia

Yang mana diketahui bahwa Kampung Adat Ciptagelar memiliki keterikatan yang dekat dengan Kerajaan Siliwangi.

Kampung Adat Ciptagelar dipimpin oleh tetua adat atau biasa disebut abah, diangkat dari keturunan yang tercatat sejak 1368.

Dilansir dari laman website jabar.kemenag.go.id, ketika masih dalam penjajahan Belanda, Kampung Adat Ciptagelar memperoleh penghargaan dengan kategori hal ekologi.

Baca Juga: Nama India akan Berubah! Pergantian Nama Negara Ini akan Disidangkan 22 September, Ternyata karena…

Wilayah Kampung Adat Ciptagelar berada di daerah agraris, sehingga mayoritas profesi yang dilakukan oleh warga adalah dengan bertani.

Tradisi yang masih dipegang teguh oleh masyarakat Kampung Adat Ciptagelar, diantaranya
menjadikan bercocok tanam sebagai tradisi yang paling dominan.

Selain itu, desa ini juga sebagai aset wisata khususnya bagi warga kasepuhan, dan umumnya diluar kasepuhan.

Baca Juga: Kejam! Anggota Polisi Alami Luka Bacok karena Jadi Korban Pembegalan, Handphone dan Uang Digasak Pelaku

Kemudian dalam hal perkawinan serta tata cara pergaulan antar warga Kampung Adat Ciptagelar masih sangat kental, pemimpin adat (kasepuhan) juga memandang keagamaan sebagai hal yang sangat penting.

Kehidupan di Kampung Adat Ciptagelar memiliki suasana yang kental dengan adat kebudayaan, damai, dan asri dengan alam.

Upacara adat turun temurun yang masih dilakukan adalah ngaseuk (menanam padi), mipit (memanen padi), ngayaran (mencoba hasil panen), ponggokan (pembagian hasil panen), dan seren taun (pesta panen).

Meski dibaluti dengan kekentalan adat, masyarakat Kampung Adat Ciptagelar tidak menolak dengan modernisasi.

Masyarakat Kampung Adat Ciptagelar menganggap teknologi adalah hal yang tidak mungkin untuk ditolak.

Tetapi dapat memberikan dampak manfaat untuk menunjang kehidupan masyarakat Kampung Adat Ciptagelar secara luas.

Seperti suasana malam di Kampung Adat Ciptagelar terang dengan cahaya lampu, karena bersumber dari PLTA yang dibangun dengan swadaya masyarakat. Lalu ada stasiun televisi dan radio yang dikelola oleh masyarakat Kampung Adat Ciptagelar.***

Rekomendasi