Menguak Sejarah Kantor NU Pertama di Kalimantan Sekaligus Pondok Pesantren Tertua, Dulunya Tempat Maksiat?

inNalar.com – Pondok Pesantren Darussalam Martapura merupakan kantor NU pertama di Kalimantan.

Tak hanya itu, Pondok Pesantren Darussalam Martapura juga merupakan pondok pesantren tertua di Kalimantan.

Didirikan oleh aktivis Muslim Syarikat KH Djamaluddin pada tahun 1914 M, yayasan ini melewati satu abadnya pada tahun 2014.

Baca Juga: Akan Gerus Dana Rp137,9 Miliar, Proyek Tol Pertama di Kalimantan Utara Ini Bakal Tarik Investasi dari KIPI

Konon Pondok Pesantren Darussalam dulunya adalah tempat maksiat, kemudian atas persetujuan ulama yang didukung Ulil Amwal, tanah tersebut dibeli dan dijadikan pusat penelitian Islam di kota Martapura.

Sebagai pesantren tertua di Pulau Kalimantan, Ponpes Darussalam telah mendidik banyak ulama.

Rata-rata para ulama Kalimantan, jika bukan alumni, paling tidak mempunyai hubungan sanad dengan ponpes tersebut.

Baca Juga: Menguak Fakta Sejarah 3 Masjid Tertua di Kalimantan Selatan, Benarkah Ada Bekas Kerajaan Demak?

Memang di sinilah para ulama dari berbagai penjuru Kalimantan belajar agama.

Pengasuh pesantren di Kalimantan banyak yang merupakan mantan santri asal Darussalam.

Pada mulanya sistem pendidikan Pondok Pesantren Darussalam Martapura adalah halaqoh, dimana santri mempelajari kitab-kitab agama di hadapan guru tergantung bidang dan jenjangnya.

Baca Juga: Kuras Dana Rp112,72 Miliar, Bandara di Berau Kalimantan Timur Ini Megah Bukan Karena Bangunannya, Melainkan…

Sistem halaqoh ini ada melalui dua periode kepemimpinan, yaitu pendiri KH Jamaluddin (1914-1919) dan KH Hasan Ahmad (1919-1922).

Pasca kepemimpinan era ketiga yaitu KH Kasyful Anwar, Darussalam merubah sistemnya.

Sebagai alumnus Ash-Shaulatiyah, madrasah legendaris dan tertua di kota Makkah, kyai sekaligus pendiri NU, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari, mengadopsi sistem klasik Ash-Shaulatiyah untuk diterapkan di Darussalam.

Jika pada awalnya jenjang pendidikan hanya berdasarkan buku, kini ada jenjang dan kelas.

Yaitu Tahdiriyah selama 3 tahun, Ibtidaiyah selama 3 tahun dan Tsanawiyah selama 3 tahun.

Tajdid atau perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan sistem pembelajaran tetapi juga kurikulum sekolah.

Nah, untuk memenuhi kebutuhan kurikulum sekolah, pengasuh ponpes yang memerintah selama 18 tahun (1922 hingga 1940) ini pun menulis sejumlah buku tingkat dasar yang masih dijadikan pedoman hingga saat ini.

Dalam kisahnya, KH Kasyful Anwar konon mengabdikan dirinya dan hartanya untuk Darussalam.

Sebagai seorang ulama yang mencari nafkah melalui aktivitas pribadinya di bidang perdagangan intan dan juga pemilik perkebunan karet, ia tak segan-segan memanfaatkan hasil aktivitasnya untuk kemaslahatan Ponpes Darussalam.

Untuk meningkatkan kualitas tenaga pengajar, KH Kasyful Anwar mengirimkan sejumlah gurunya untuk melanjutkan studi ke Mekkah Al-Mukarramah, tempat kajian Islam Ahlusunnah Waljamaah saat itu masih dominan, sebelum kemudian dianugerahkan gelar Wahhabi.

Pilihan pengiriman ke Makkah juga tidak diabaikan karena KH Kasyful Anwar sendiri juga merupakan mantan murid di Makkah.

Selama 17 tahun (1313 H./1895 M s/d 1330 H./1911) menuntut ilmu di kota suci umat Islam ini, tentu beliau sangat akrab dengan para ulama, kondisi lingkungan dan keadaan yang mendukung bagi kelanjutan pendidikan para ulama.

Perlu diketahui, beberapa pengajar Darussalam yang berangkat antara tahun 1936 hingga 1937 adalah KH Semman Mulya, KH Nashrun Thahir, KH Ahmad Nawawi Marfu, KH Salman Jalil dan KH Abdurrahman Ismail.

Sebelumnya, pada saat menunaikan ibadah haji tahun 1930, KH. Kasyful Anwar membawa kedua cucunya ke Mekkah untuk menuntut ilmu, yaitu KH. Muhammad Syarwani Abdan dan KH. Sy’rani ‘Arif.

Pengiriman beberapa mantan santri ke luar negeri untuk kemudian mengabdi di Ponpes Darussalam sudah jadi tradisi hingga sekarang.

Walaupun catatan sejarah yang ada sangat sedikit, namun dari kisah-kisah yang diturunkan, KH. Kasyful Anwar mempunyai hubungan dekat dengan KH.

Hasyim Asy’ari, teman sekelas di Ash-Shaulatiyah Makkah.

Selain itu, tenaga pengajar Darussalam juga merupakan alumni Syekh Kholil Bangkalan dan Tebuireng yaitu KH. Abdul Qodir Hasan.

Saat NU menyelenggarakan muktamar pertamanya yaitu pada tanggal 21 Oktober 1926 di Surabaya, KH Kasyful Anwar menahbiskan KH. Abdul Qodir Hasan harus menghadiri pertemuan besar ulama Aswaja.

Sekembalinya dari kongres ini, KH. Abdul Qodir Hasan, saat itu berusia 35 tahun (lahir tahun 1891), mendirikan NU di Martapura.

Ini merupakan cabang NU pertama di luar Pulau Jawa. Karena belum ada gedung, NU Martapura saat itu berkantor di pesantren Darussalam.

Tentu saja hal itu atas izin KH Kasyful Anwar, pemimpin Darussalam.

Selain sebagai kantor, menurut cerita yang sering dituturkan Abah Guru saat mengaji, Pondok Pesantren Darussalam juga menjadi tempat pertemuan bulanan para ulama dan warga NU yang disebut Lailatul Ijtima’.***

Rekomendasi