

InNalar.com – Baru-baru ini tengah ramai kericuhan yang terjadi di Pulau Rempang, Batam, Kepulauan Riau.
Adapun kericuhan tersebut karena warga menolak akan digusurnya lahan mereka untuk dijadikan Ecocity.
Ecocity yang ada di Pulau Rempang Batam tersebut nantinya akan dikembangkan menuju ke arah kawasan industri, perdagangan, dan sektor pariwisata yang terintegrasi.
Diadakannya Ecocity di Pulau Rempang, hal ini menjadikannya mampu bersaing dengan negara sebelah seperti Malaysia ataupun Singapura.
Salah satu yang akan dibangun industri di Pulau Rempang Kepulauan Riau adalah pabrik kaca terbesar ke-2 di dunia, yang akan dibangun oleh Xinyi Group asal China.
Sedangkan untuk investasinya sendiri, perusahaan aasal China itu diperkirakan akan membutuhkan investasi sebesar Rp 174 triliun.
Perlu diperhatikan, hal itu hanyalah satu pabrik yang akan dibangun disana.
Baca Juga: Konflik Lahan di Rempang Mencekam: TNI, Polri dan BP Batam Gebuk Massa, Warga Luka Parah
Sebab, dalam membangun Ecocity di Pulau Rempang di Batam ini, keseluruhan lahan yang diperlukan yaitu seluas 7.572 hektar.
Sebenarnya rencana ini telah digagas semenjak tahun 2004, dan baru terlaksana pada tahun 2023 ini.
Dilansir InNalar.com dari bpbatam.go.id, dalam membangun Ecocity tersebut, diperkirakan anggaran yang dikucurkan nantinya bisa mencapai Rp 381 triliun.
Diharapkan jika Ecocity Pulau Rempang ini mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 306 ribu hingga di tahun 2080.
Apa lagi tenaga kerja itu nantinya akan dibekali pendidikan serta pelatihan khusus, agar para pemuda Indonesia lebih siap menghadapi persaingan industri di masa depan.
Sebenarnya, proyek Pulau Rempang untuk dijadikan Ecocity ini telah masuk di dalam daftar Program Strategis Nasional tahun 2023.
Meskipun begitu saat penggarapan proyek ini akan berlangsung, banyak warga Pulau Rempang yang menolak.
Bahkan dari kejadian tersebut, sampai membuat puluhan warga terluka.***