

inNalar.com – Bandara Internasional Bali Utara merupakan salah satu proyek bandara termahal yang ada di Indonesia.
Proyek Bandara Internasional Bali Utara memakan nilai investasi sebesar Rp17 Triliun.
Bandara Internasioanl Bali Utara masih dalam tahap proses perencanaan sampai saat ini.
Dibalik proyek pembangunan Bandara Internasional Bali Utara ini, ternyata menyimpan sebuah fakta.
Dikutip dari bibupanjisakti.co.id, fakta tersebut adalah Presiden kelima yakni Megawati Soekarno Putri menolak pembangunan proyek ini.
Menyanggupi penolakan tersebut, Direktur Utama PT. Bandara Internasional Bali Utara (BIBU) Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo mengatakan penolakan Megawati adalah bentuk ungkapan cinta kepada Bali terutama Buleleng, tanah leluhurnya.
Sebagai salah satu perusahaan yang mengajukan diri dalam proyek bandara ini, dijelaskan dalam master plant BIBU, pembangunan bandara dilakukan secara offshore.
Dikutip dari berbagai sumber, dilakukannya secara offshore dengan memanfaatkan lahan yang sudah abrasi di Desa Kubutambahan, Kabupaten Buleleng.
Dilansir inNalar.com dari situs resmi PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo sebagai pihak yang mengawali dan menangani Bandara Bali Utara di Buleleng menjelaskan konsep pembangunan bandara didasari pada tiga konsep.
Ketiga konsep tersebut berupa tidak menggusur situs adat atau pura, tidak akan menggusur lahan-lahan produktif masyarakat, dan tidak akan menggusur lokasi yang menjadi perumahan dan pemukiman masyarakat.
Proyek pembangunan Bandara Internasional Bali Utara ini, rencananya tidak menggunakan anggaran dari APBN dan murni dari dana investor dengan masyarakat yang ikut terlibat, sebagaimana yang dikatakan oleh Jendral Polisi (PURN) Sutarman dikutip dari situs resmi PT BIBU Panji Sakti.
Erwanto Sad Adiatmoko mengatakan bahwa banyak investor yang meminta untuk bergabung.
Erwanto juga menargetkan Bandara Bali Utara bisa rampung sebelum 2026, dengan minimal satu runway sudah bisa digunakan, karena menurut prediksinya pada 2026, Bandara Ngurah Rai akan mengalami kepenuhuan kapasitas.
Pihak PT BIBU Panji Sakti dan Erwanto menargetkan Bandara Internasional Bali Utara akan memiliki tiga runway.
Meskipun sudah dikeluarkan dari Proyek Strategis Nasional (PSN) karena proyek Bandara Bali Utara tidak bisa selesai di 2024, Erwanto berpendapat bahwa pembangunan bandara akan terus berlanjut.
Pengeluaran dari PSN ini disebebkan oleh PSN yang merupakan program strategis presiden yan artinya program tersebut harus selesai di 2024.
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko yang dikutip dari situs resmi bibupanjisakti.co.id, ikut memastikan rencana pembangunan Bandara Bali Utara yang ada di Kabupaten Buleleng akan tetap dilanjutkan.
Moeldoko juga mengatakan rencana proyek bandara sampai saat ini masih dalam pembahasan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) periode 2024-2045.
Melihat banyaknya aspirasi yang dikemukakan oleh tokoh masyarakat di Buleleng akan pembangunan bandara ini tetap berlanjut, KSP Moeldoko mengatakan akan menyampaikan semua aspirasinya ke Presiden Jokowi.
Dilansir inNalar.com dari situs resmi bibupanjisakti.co.id, Bandara Bali Utara direncakan dapat melayani 50 juta penumpang.
Luas bandara ini 600 hektare dengan evaluasi 8 Mdpl yang dilengkapi dengan 2 landasan pacu paralel, taxiway paralel, gedung terminal penumpang ala modern, terminal penerbangan umum, terminal kargo, dan ATC Control Tower.***