Yogyakarta Dijuluki Sebagai Kota dengan Kesenjangan Sosial Tertinggi di Indonesia, Ternyata Ini Penyebabnya

InNalar.com – Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, budaya, dan potensi manusia.

Namun, di balik kekayaan tersebut, terdapat pula kesenjangan sosial yang masih menjadi tantangan bagi pembangunan nasional.

Kesenjangan sosial dapat dilihat dari berbagai indikator, salah satunya melalui Gini Rasio.

Baca Juga: Biayannya Rp27,48 Triliun! Proyek Tol Solo-Yogyakarta Diramalkan Mampu Tampung 25.000 Kendaraan, Dilengkapi…

Gini Rasio adalah ukuran yang menunjukkan tingkat ketimpangan pendapatan atau pengeluaran antara penduduk.

Gini Rasio berkisar antara 0 hingga 1, di mana angka 0 menunjukkan kesetaraan sempurna dan angka 1 menunjukkan ketimpangan sempurna.

Semakin tinggi Gini Rasio, semakin tinggi pula kesenjangan sosial.

Namun, jika dilihat per provinsi, terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara daerah-daerah di Indonesia.

Baca Juga: Dana Rp 20,4 Triliun, Pemerintah Pusat Harus Penuhi Syarat dari Pemda DIY Jika Akan Bangun Tol Yogyakarta-Solo

Berdasarkan data BPS, provinsi dengan Gini Rasio tertinggi pada Maret 2023 adalah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan angka 0,453.

Data ini turun dari data pada September 2022 yang mana mencapai angka 0,468.

Provinsi ini dikenal sebagai pusat pendidikan, budaya, dan pariwisata di Indonesia.

Namun, di balik kemajuan tersebut, terdapat pula ketimpangan antara penduduk kota dan desa, antara penduduk berpendidikan tinggi dan rendah, serta antara penduduk asli dan pendatang.

Baca Juga: Telan Dana Hingga Rp 14,2 Triliun, Tol di Yogyakarta Ini Bakal Menembus Perut Perbukitan, Gimana Caranya?

Salah satu faktor yang menyebabkan ketimpangan di DIY adalah adanya perbedaan akses terhadap sumber daya ekonomi.

Sementara itu, kelompok masyarakat bawah hanya menjadi buruh tani atau pekerja informal yang bergantung pada upah harian.

Adanya perkembangan sektor pariwisata ternyata juga berdampak pada ketimpangan di DIY.

Sementara itu, kelompok masyarakat yang memiliki modal dan keterampilan rendah hanya menjadi pekerja kasar atau penjual asongan yang mendapatkan penghasilan tidak tetap.***

 

Rekomendasi