

inNalar.com – Sebagai provinsi baru, Kalimantan Utara tentu kaya akan sumber daya alam yang masih belum bisa dikelola dengan benar.
Untuk memajukan beberapa daerahnya, pemerintah pun membangun beberapa infrastruktur agar potensi Kalimantan Utara dapat dimaksimalkan.
Salah satunya yaitu dengan pembangunan pelabuhan di Tana Tidung yang dinilai dapat menjadi penyangga Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI).
Dilansir inNalar.com dari kaltara.bpk.go.id, pemerintah Kalimantan Utara merencanakan pembangunan Pelabuhan Bebatu.
Berlokasi di Kabupaten Tana Tidung, pelabuhan ini diketahui akan memiliki luas sekitar 5 hektar.
Lahan 5 hektar tersebut akan digunakan sebagai pembangunan pelabuhan yang memiliki fungsi utama sebagai penyimpanan peti kemas.
Anggarannya sendiri diperkirakan mencapai USD100 juta atau sekitar Rp1,53 triliun menggunakan APBD, menjadikan Pelabuhan Bebatu sebagai pelabuhan termahal di Kalimantan Utara.
Karena besarnya anggaran untuk membangun Pelabuhan Bebatu, pemerintah pun berencana untuk menawarkan proyek ini kepada investor.
Pembangunan pelabuhan ini digagas karena lokasi Pelabuhan Bebatu di Tana Tidung nantinya dinilai strategis.
Pelabuhan Bebatu diwacanakan dapat menyediakan akses bongkar muat barang yang digunakan untuk membangun PLTA Mentarang di Malinau.
Pelaksanaan bongkar muat di pelabuhan baru Kalimantan Utara ini dinilai lebih efisien dibandingkan di Pelabuhan Kelapis.
Pemerintah Tana Tidung juga menawarkan proyek pelabuhan baru kepada investor, terutama pihak pembangun PLTA Mentarang.
Sayangnya, pembangunan Pelabuhan Bebatu dikatakan hanya terbatas rencana mengingat proyek tersebut masih bergelut dengan pembebasan lahan.
Lokasi yang digunakan untuk membangun Pelabuhan Bebatu di Tana Tidung, Kalimantan Utara, rupanya masuk dalam Kawasan Budidaya Kehutanan (KBK).
Sehingga, bila pemerintah setempat bersungguh-sungguh untuk melakukan melakukan pembangunan, maka ada dua pilihan mekanisme yang bisa dilakukan.
Dua mekanisme tersebut adalah mengalihfungsikan KBK menuju Areal Penggunaan Lain (APL), atau melakukan pinjaman kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).
Apapun pilihannya, pelabuhan termahal di Kalimantan Utara ini diharapkan dapat terealisasi sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan perekonomian di daerah ini.***