Sejarah Candi Tertua di Jawa Timur Mempunyai Nama Unik Serta Raja dengan Sifat Jenaka, di Mana Lokasinya?

inNalar.com – Candi merupakan bangunan kuno peninggalan kerajaan yang ada di Indonesia. 

Jawa Timur mempunyai beberapa candi yang tersebar di beberapa wilayahnya. Terdapat candi tertua yang ditemukan di Jawa Timur pada tahun 1921. 

Candi tertua ini terletak di Kota Malang bagian barat tepatnya di Kelurahan Karang Basuki, Kecamatan Sukun. 

Baca Juga: Pilih Masuk Surga Dipaksa atau Neraka karena Sukarela? Ini Jawaban Inspiratif Ustadz Abdullah Zaen

Mengulas sejarah singkat candi tertua yang mempunyai nama unik sebagai berikut.

Pertama kali ditemukan oleh seorang kontrolir Belanda, Mauren Brecher yang sedang berinventarisasi di sekitar Malang. 

Pada tahun 1923 pegawai purbakala dari Belanda, B. De Haan membuat laporan mengenai penemuan Mauren Brecher. 

Baca Juga: Kawasan Industri Hijau Dekat IKN Telan Dana Investasi Rp2.000 Triliun, Benarkah Dapat Suntikan dari Asing?

Berdasarkan sumber diketahui candi ini dibangun pada abad ke-8 yaitu sekitar tahun 760 Masehi. 

Jika dirujuk pada tahun pembuatannya candi ini terbilang candi tertua di Jawa Timur. 

Pada isi Prasasti Dinoyo yang mengisahkan Gajayanalingga Jagatnata atau Raja Gajayana meyakini candi ini dibangun pada masa awal pimpinan Raja Gajayana.

Baca Juga: Gaet Investor Asing, Mega Proyek PLTA Senilai Rp270 Triliun di Kalimantan Utara Ini Bakal Selesai Tahun…

Saat itu Raja Gajayana memerintah Kerajaan Kanjuruhan pada tahun 760 sampai 789 Masehi. 

Candi yang bercorak Hindu dan saat ditemukan dalam kondisi rusak dan tertutup oleh tanah serta pepohonan. 

Bangunan candi mirip dengan candi-candi yang berada di Jawa Tengah sedangkan candi di Jawa Timur kebanyakan berbentuk ramping. 

Baca Juga: Hilangkan Anggaran Rp121 Miliar, Korupsi Bikin Pelabuhan di Riau Mangkrak dan Kondisinya Jadi Mengenaskan

Terbuat dari batu andesit yang bagian kaki candi berbentuk bujur sangkar dengan lebar 1,5 meter. 

Pada pintu sisi barat dihiasi dengan kala tanpa rahang bawah dan pada sisi timur, selatan dan utara dihiasi relung-relung. 

Candi ini dinamakan Candi Badut,  jika dalam prasasti Dinoyo sebagai Liswa yang berarti badut dalam bahasa Jawa. 

Baca Juga: Anggarkan Rp7 M, Pembangunan Gedung IGD Rumah Sakit Kalimantan Utara Mangkrak Usai Rampung 60 Persen, Kenapa?

Mengutip dari jatim.solopos.com, pada prasasti Dinoyo menceritakan masa pemerintahan Raja Dewasimba dengan putranya Sang Liswa. 

Raja Liswa dengan gelar Raja Gajayana merupakan seseorang yang mempunyai sifat jenaka atau suka melucu. 

Jika di bahasa Jawa berarti mbadhut dan digunakan sebagai penamaan Candi Badut. Sebenarnya dugaan ini belum ada temuan bukti yang kuat. 

Baca Juga: Kebut Beres 2024, Kementerian PUPR Telah Merampungkan 34 Insfrastruktur PSN di Jawa Tengah, Apa Saja?

Pada laman kontenjatim.com menjelaskan nama ini diberikan oleh masyarakat sekitar yang berasal dari bahasa Sankerta. 

Kata Bha dyut dengan arti Bintang Conopus, jika dilihat dari filosofi Candi Badut bermakna Bintang Canopus pelita di tengah kegelapan.

Candi Badut ini sudah berusia lebih dari 1400 tahun***

 

Rekomendasi