

inNalar.com – Jawa Timur memiliki kota tertua yang merupakan kota terbesar kedua setelah Kota Surabaya dan Kota Malang.
Kota tertua ini memiliki luas 63,40 km2 dan terbelah oleh Sungai Brantas sepanjang 7 km, kota ini berpenduduk 289,418 jiwa.
Terkenal dengan sebutan “Kota Tahu” karena dianggap menjadi pelopor pertama pembuatan tahu sejak dulu.
Pembangunan bandara internasional sedang dilakukan di kota tertua ini dan bandara ini digadang-gadang akan menjadi terbesar di Jawa Timur setelah Juanda.
Kota ini merupakan pusat perdagangan utama gula dan industri rokok yang terbesar di Indonesia.
Gudang Garam sendiri berkembang dan berdiri di kota tertua ini. Hari jadi kota tertua di Jawa Timur ini ditetapkan pada 25 Maret 804 Masehi.
Baca Juga: Fakta Unik Dibalik Pudarnya Nilai Sakral dari Kain Sasirangan Khas Banjarmasin Kalimantan Selatan
Melansir dari wikipedia, sekitar daerah kota tertua ini menjadi lokasi Kerajaan Kediri yang merupakan kerajaan Hindu-Buddha pada abad ke-11.
Pada saat itu wilayah kota tertua ini jatuh ke tangan VOC sebagai konsekuensi Geger Pecinan yang saat itu Jawa Timur dikuasai oleh Cakraningrat IV.
Adipati Madura yang pada saat itu memihak pada VOC yang menginginkan Madura bebas dari Kasunanan Kartasura.
Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) menolak keinginan dan terjadi pemberontakan yang dimenangkan oleh VOC dengan bantuan Pakubuwana II sunan Kartasura.
Kekuasaan Belanda di kota tertua ini berlangsung hingga Perang Kemerdekaan Indonesia.
Pada masa Revolusi Kemerdekaan di tahun 1945-1949 kota tertua ini menjadi salah satu titik rute Gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman.
Kota tertua yang dikenal dengan sebutan “Kota Tahu” yang ada di Jawa Timur ini ialah Kota Kediri.
Melalui laman resmi Kabupaten Kediri asal muasal nama Kediri.
Nama Kediri berasal dari kata “kedi” yang berarti mandul atau wanita yang tidak sedang datang bulan.
Jika menurut kamus Jawa kuno “kedi” berarti orang kebiri bidan atau dukun.
Sedangkan “diri” mempunyai arti adeg, anghdiri, menghadiri atau menjadi raja seperti yang tercantum pada Prasasti Wanua 830 saka.
Menurut pendapat ahli lembaga Javanologi, Soekarton Katoadmodjo nama Kediri tidak berkaitan dengan “Kedi” ataupun tokoh “Rara Kilisuci”.
Berasal dari kata “diri” yang berarti adeg (berdiri) dan awalan “ka” berarti “menjadi raja”.
Kota Kediri juga terdapat pembangunan Bandara Internasional Dhoho yang akan melayani daerah Kediri Raya yakni Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, Tulungagung, Kota serta Kabupaten Blitar dan Trenggalek juga daerah sekitar.
Bandara ini digadang-gadang akan menjadi bandara terbesar di Jawa Timur yang akan bersaing dengan Bandara Juanda.
Mempunyai landas pacu sepanjang 3.300 meter yang bisa dilewati oleh jenis pesawat apapun.
Bandara dirancang untuk bisa menampung sekitar 10 juta penumpang per tahunnya
Kota tertua ini juga mempunyai kuliner yang khas dengan cita rasa yang unik.
Kuliner khas Kota Kediri yaitu Soto Branggahan yang khas dengan kuah santan dicampur dengan kemiri dengan rasa gurihnya.
Jika ingin berkunjung ke Kota Kediri, bisa mengunjungi beberapa wisata seperti Museum Airlangga, Museum Fotografi , Kediri Eco Park, Kebun Bunga Matahari, dan Waterpark Kediri.***