

Batam, inNalar.com – Aksi kekerasan diduga dilakukan aparatur negara, kali ini wartawan mediakepri.co yang jadi korbannya, saat melakukan tugasnya di lapangan, Senin, 11 September 2023 sore WIB.
Tugas yang dimaksud merupakan liputan aksi penolakan relokasi Kampung Tua Rempang. Kekerasan ini dialami oleh R Fahrudin, wartawan Media Kepri Group dengan portal daring bernama MediaKepri.co.
Kronologi kekerasan bermula saat sang wartawan tiba-tiba didatangi oleh petugas yang memaksanya untuk mengapus video liputan aksi penolakan relokasi Kampung Tua Rempang.
Lebih lanjut, Fahrudin menjabarkan mengenai kejadian tidak mengenakkan yang ia alami pada Senin, 11 September 2023.
Bukan hanya wartawan MediaKepri.co yang jadi korban, sikap intimidasi dan penggunaan kekerasan aparat juga dirasakan oleh sebagian warga.
Hal itu disinyalir sebagai biang ricuh dalam aksi penolakan relokasi Kampung Tua Rempang, di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Batam.
Baca Juga: Anggaran Rp10 Triliun! Proyek BTS 3T Ini Justru Rugikan Indonesia Hingga Rp8 Triliun, Korupsi?
Fahrudin menuturkan bahwa ia sedang beristirahat setelah terjadi kericuhan yang kedua kali di depan Hotel Santika, namun itu tidak berlangsung lama.
Pasalnya, di tengah huru-hara aksi, terdapat informasi bahwa massa aksi yang menjadi pemicu kerusuhan di Gedung LAM ditangkap oleh petugas.
Melihat penangkapan tersebut, Fahrudin spontan mengangkat kameranya untuk merekam apa yang terjadi.
Baca Juga: Benarkah Perahu Jukung Asli Banjar Ini Sudah Ada Sejak 2000 SM dan Kini Terancam Punah?
Tiga petugas berpakaian preman kemudian menghampiri Fahrudin, bahkan mengepungnya dari arah belakang dan samping.
“Saya menuju Kantor Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam untuk kembali melakukan peliputan,” katanya.
Aparat yang menyamar itu diduga memaksa Fahrudin untuk tidak merekam kejadian di gedung LAM tersebut dan meminta untuk video yang telah diambil untuk dihapus segera.
Salah satu dari petugas menyatakan agar Fahrudin menghapus video miliknya tersebut atau video akan dihapus oleh petugas saat itu juga.
Dikarenakan tekanan keadaan sekitar, terpaksa wartawan menghapus video liputannya.
“Hapus Video itu. Kalau kau tak menghapus, aku yang menghapus,” kata salah seorang aparat.
Belakangan diketahui, terdapat delapan orang yang diamankan saat terjadi kericuhan antara warga dan petugas di gedung LAM.
Salah satu orang dipulangkan dengan alasan tidak terbukti memicu keributan dengan melempar batu atau pemukulan ke petugas.
Sedangkan tujuh orang lainnya ditangkap karena dianggap memprovokasi dengan memukul, melempari petugas beserta membawa senjata seperti ketapel, parang dan bom molotov.***