
inNalar.com – Di dunia akademik, kebiasaan menulis memang menjadi elemen krusial dalam penyelesaian tugas akhir. Tidak sekedar menyusun kata per kata, tapi lebih dari itu, menulis merupakan sarana untuk menstimulus visi besar bagi siswa di SMA Islam Parlaungan Sidoarjo sebagai agent of change.
Melalui tulisan inilah, para siswa di SMA Islam Parlaungan Sidoarjo ini membuktikan bahwa mereka mampu untuk mengolah suatu temuan atau informasi, yang kemudian diolah menjadi satu karya orisinal yang menjadi khazanah baru dalam ilmu pengetahuan.
Tidak jauh berbeda dengan sekolah lainnya, SMA Islam Parlaungan ini membuat satu gebrakan revolusioner dengan memasukkan mata pelajaran Karya Ilmiah Remaja (KIR) ke dalam muatan lokal—yang mana menjadi salah satu standar kelulusan para siswa. Penasaran? Simak artikel ini lebih lanjut!
Baca Juga: Alasan Pondok Pesantren Perut Bumi Tuban Ini Ramai Diserbu Warga, Ternyata…
Melansir jepang.upi.edu, karya ilmiah ini diibaratkan menjadi suatu manifesto pemikiran—berperan untuk menyingkap tabir semu, yang kemudian dapat menjadi pemahaman baru yang berkembang. Maka, tidak mengherankan apabila debut karya ilmiah ini menjadi suatu pijakan untuk membentuk suatu opini yang mengakar pada logika dan riset.
Secara tidak langsung, hadirnya KIR dalam kurikulum lokal di SMA Islam Parlaungan Sidoarjo merupakan terobosan pendidikan yang visioner, terlebih ketika menjadikan mata pelajaran ini sebagai tonggak utama kelulusan siswa.
Lebih dari itu, program eksklusif ini telah direalisasi oleh sekolah ini selama 14 tahun. Hal ini dapat dikatakan sebagai satu inovasi yang menginspirasi, karena mengadopsi standar yang jarang diterapkan di sekolah lainnya.
Baca Juga: Bakal Produksi Hingga 534 Juta Ton! Prospek Bisnis Batubara Indonesia Semakin Gemilang
Slamet, selaku Kepala SMA Islam Parlaungan Sidoarjo, menyebutkan bahwa mata pelajaran KIR ini mulai dikenalkan kepada para siswa sejak mereka kelas X hingga kelas XII.
Meskipun telah dikenalkan sejak awal, namun finalisasi ujian akhir KIR akan dikhususkan kepada siswa kelas XII, untuk kemudian dinyatakan lulus atau tidaknya. Hal ini menurut Slamet sangat penting, mengingat kemampuan menulis siswa nantinya dapat menunjang kemampuan siswa di jenjang Perguruan Tinggi.
Beliau menyebutkan bahwa optimalisasi mata pelajaran ini seringkali dilakukan. Sebab, SMA Parlaungan ini mematok standar tinggi bagi para siswa—sejalan dengan visi sekolah untuk mengembangkan potensi siswa sebagai khalifah fil ardl’ yang berwawasan IMTAQ dan IPTEK.
Lalu, bagaimana dengan proses yang harus ditempuh oleh siswa kelas XII di SMA Islam Parlaungan Sidoarjo ketika menghadapi ujian akhir KIR ini? Apakah hanya dikumpulkan, atau diseminarkan?
Baca Juga: 2025 Produksi Nikel Bakal Dipangkas Gegara Harga Merosot, Ternyata Ini Penyebabnya
Pada proses ujian akhir, para siswa kelas XII di sekolah ini harus melewati satu perjalanan panjang yang kiranya agaknya cukup melelahkan. Pasalnya, selain dituntut untuk menghasilkan satu karya tulis ilmiah yang berkontribusi bagi masyarakat, karya ini ternyata juga diseminarkan.
Tidak jauh berbeda dengan ujian Skripsi, Tesis, ataupun Disertasi, ujian KIR di sini juga diujikan oleh para guru sesuai dengan konsentrasi pendidikannya, pun juga mendatangkan penguji yang berasal dari luar sekolah. Sehingga, keterampilan siswa dalam mengelola suatu kompetensi dari berbagai diskursus ilmu menjadi sangat penting.
Para penguji ini adalah mahasiswa dari beberapa Perguruan Tinggi yang didatangkan secara khusus oleh Kepala Sekolah SMA Islam Parlaungan. Slamet menyebutkan bahwa beberapa kampus yang dilibatkan seperti Universitas Trunojoyo Madura, Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh November, dan beberapa kampus lain di Jawa Timur.
Saat pengujian berlangsung, para siswa di sekolah ini akan diuji secara langsung oleh 1 guru dan 2 mahasiswa. Nantinya, para penguji ini akan mengevaluasi penelitian para siswa—dengan memberikan kritik dan saran yang konstruktif.***