

inNalar.com – Kampung di Jawa Barat ini terbilang unik. Pasalnya, diketahui seluruh warganya tidak pernah makan nasi sejak lahir. Lokasinya pun 13 km dari Bandung.
Padahal, sebagian besar mata pencaharian penduduk kampung di Jawa Barat ini adalah petani.
Bagaimana tidak, wilayah kampung unik di Jawa Barat ini didominasi oleh lahan pertanian yang luasnya mencapai 60 hektare.
Baca Juga: Puja Puji Shin Tae-yong ke Erick Thohir: Dia Sangat Peduli dengan Sepakbola Indonesia
Wilayah pemukiman penduduknya hanya 4 hektare dari total wilayahnya yang luasnya 64 hektare.
Sangat unik, mengingat sebagian besar wilayahnya didominasi oleh lahan pertania dengan profesi warganya sebagai petani.
Namun ternyata para warga kampung di Jawa Barat ini miliki warisan kebudayaan turun-temurun, yakni tidak makan nasi selama hidupnya.
Baca Juga: Dulu Mirip Kandang Ayam, PLBN di Kalimantan Barat Ini Jadi Ikon Megah Terpandang di Perbatasan
Lantas, apa yang warga desa ini konsumsi kalau bukan nasi? Ternyata ada alasan khusus di balik kebiasaan unik tersebut.
Luasnya lahan pertanian yang ada di kampung unik di Jawa Barat ini ternyata ditanami singkong.
Warga kampung tersebut terbiasa mengolah singkong menjadi rasi yang menjadi tradisi turun-temurun sejak 85 tahun lebih.
Desa unik ini namanya adalah Kampung Adat Cireundeu, tepatnya berada di Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat.
Dilansir dari laman cimahikota.go.id, penduduk Kampung Adat Cireundeu jumlahnya 800 jiwa atau 50 kepala keluarga.
Sudah mulai bisa menebak makanan apa yang bisa menggantikan beras dalam kehidupan turun-temurun warga Cireundeu?
Penduduk kampung Cireundeu memang tidak memakan nasi layaknya orang Indonesia pada umumnya, tetapi mereka kesehariannya memakan beras singkong alias rasi.
Ternyata di balik alasan masyarakat kampung unik di Jawa Barat ini secara serentak tidak makan nasi adalah bagian dari bentuk kepatuhan terhadap tradisi leluhur.
Ema Sumiati dalam penelitian etnografinya terhadap Kampung Cireundeu di Jawa Barat ini mengungkap bahwa warisan tradisi turun-temurun yang dipatuhi oleh para penduduknya terbentuk dari kondisi kesulitan ekonomi.
Kondisi ekonomi yang sulit tersebut mendorong para warganya dahulu membentuk sebuah pola kebiasaan yang dibentuk dalam lingkup keluarga, kemudian diwariskan sebagai nilai kearifan lokal.
Para penduduk kampung unik di Jawa Barat ini memanfaatkan potensi sumber daya alam singkong yang diolah menjadi rasi.
Hal inilah yang kemudian membangkitkan sebuah pola kebiasaan turun-temurun yang berkembang menjadi sebuah kearifan lokal.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi