

inNalar.com – Ustadz Khalid Basalamah kali ini menyampaikan tentang bahaya dosa ghibah.
Ghibah atau mencela orang lain secara sembunyi-sembunyi, adalah dosa yang sering dilakukan tanpa disadari oleh banyak orang.
Namun, dosa ini memiliki konsekuensi yang sangat serius dalam Islam menurut Ustadz Khalid Basalamah.
Hal itu tertuang dalam Firman Allah SWT di surat Al-Hujurat ayat 12 berikut:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang”.
Dalam hadits Nabi SAW juga menjelaskan tentang ghibah:
“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwsanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat Anda, jika itu memang benar ada padanya? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar berarti engkau telah berdusta di atasnya.” (HR. Muslim).
Berdasarkan hadits Nabi Saw. konsekuensi seseorang melakukan ghibah adalah sebagai berikut:
1. Lebih berbahaya dari dosa zina
Dosa zina dapat diampuni jika pelakunya bertaubat dengan bersungguh-sungguh. Berbeda dengan dosa ghibah, walaupun pelakunya sudah bertaubat, namun jika yang ia ghibahi masih belum memaafkannya maka dosanya akan terus ada.
Dalam hadits Rasulullah SAW bersabda:
“Ghibah itu lebih berat dari zina. Seorang sahabat bertanya, ‘Bagaimana bisa?’ Rasulullah SAW menjelaskan, ‘Seorang laki-laki yang berzina lalu bertobat, maka Allah bisa langsung menerima tobatnya. Namun pelaku ghibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang dighibahnya.'” (HR. At Thabrani).
2. Pahalanya akan di berikan kepada yang dia ghibahi
Jika seseorang melakukan ghibah sampai mendzolimi orang lain, maka kelak pahala orang yang mengghibah tersebut akan berpindah kepada yang ia ghibahi.
Dalam hadits Rasulullah Saw. bersabda:
“Siapa yang pernah menzalimi saudaranya berupa menodai kehormatan atau mengambil sesuatu yang menjadi miliknya, hendaknya ia meminta kehalalannya dari kezaliman tersebut hari ini. Sebelum tiba hari kiamat yang tidak akan bermanfaat lagi dinar dan dirham. Pada saat itu bila ia mempunyai amal shalih maka akan diambil seukuran kezaliman yang ia perbuat. Bila tidak memiliki amal kebaikan, maka keburukan saudaranya akan diambil kemudian dibebankan kepadanya.” (HR. Bukhari).
Dalam ceramahnya, Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan bahwa ghibah bukan hanya berdampak pada hubungan antarmanusia, tetapi juga pada hubungan kita dengan Allah SWT.
Ghibah dapat merusak kebaikan amal perbuatan kita dan menghambat kemajuan spiritual kita.
Allah SWT juga mengingatkan kita dalam surat al-Mu’min ayat 39
Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.
Oleh karena itu, kita harus berusaha keras untuk menjaga lidah kita dan menghindari ghibah. Bagaimana cara menghindari ghibah?
1. kita harus berupaya untuk meningkatkan kesadaran diri dan mengontrol ucapan kita.
2. kita harus mentaati perintah Allah SWT dan menjauhi setiap tindakan yang mencemarkan nama baik orang lain.
3. kita harus selalu mengingatkan diri sendiri akan bahaya dan konsekuensi dosa ghibah, baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam surat Al-Hujurat ayat 11, Allah SWT mengingatkan kita bahwa:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”
Kita juga harus melibatkan kekuatan hikmah dan kasih sayang. Alih-alih menyebarkan keburukan orang lain, kita harus saling mendukung dan membantu untuk mencapai kesempurnaan hidup.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah dan perlindungan bagi kita semua agar terhindar dari dosa ghibah. Amin.***