

inNalar.com – Sejarah berdirinya perusahaan tambang batu bara di Kalimantan Selatan ini berawal dari sebuah Perusahaan Pemerintahan Spanyol yang menawar blok di sana.
Awalnya blok di Kalimantan Selatan yang dipilih oleh Perusahaan asal Spanyol tersebut dinilai memiliki kualitas batu bara yang rendah.
Namun, Perusahaan asal Spanyol yang menawar blok kedelapan di Kalimantan Selatan tersebut optimis mengenai adanya potensi batu bara yang besar di sana.
Baca Juga: Bukan Tana Tidung, Daerah Termiskin di Kalimantan Utara Ternyata dari Kabupaten Ini, Coba Tebak!
Perlu diketahui, dilansir dari laman web resmi adaro.com, disebutkan bahwa Perusahaan Pemerintahan Spanyol tersebut bernama Enadimsa.
Setelah berhasil menguasai blok delapan tambang batu bara di Kalimantan Selatan tersebut, pemilihan nama perusahaan tersebut pun dilakukan.
Setelah diskusi selesai, akhirnya nama ‘Adaro’ lah yang terpilih untuk dijadikan nama perusahaan tambang batu bara di blok delapan Kalimantan Selatan tersebut.
Setelah beberapa abad, akhirnya PT Adaro Indonesia berdiri dan mengelola blok delapan yang berada di Kalimantan Selatan tersebut.
Namun, setelah berjalan beberapa saat, perusahaan tambang batu bara tersebut kesulitan dalam moda arus transportasi, atau lebih tepatnya rute transportasinya.
Ya, jika ditelusuri dari letaknya, keberadaan tambang batu bara di Kalimantan Selatan tersebut berada di area pedalaman.
Sehingga, akan sangat sulit bagi kendaraan atau alat transportasi yang berbadan besar masuk ke dalam wilayah tersebut.
Akhirnya, perusahaan tambang batu bara asal Spanyol tersebut pun memutuskan untuk melakukan pembangunan jalan pengangkutan batu bara di sana.
Keputusan mengenai pembangunan jalan untuk pengangkutan batu bara di Kalimantan Selatan tersebut pun sebisa mungkin berintegrasi dengan masyarakat, dan seluruh pihak yang bersangkutan.
Kemudian, di langkah pertama perusahaan tersebut melakukan pengumpulan dana dari sejumlah bank, tepatnya pada bulan Mei 1990.
Namun, tanpa disangka, ternya beberapa bank yang didekati untuk pembiayaan tersebut pun menolak untuk meminjaminya.
Alasannya adalah perusahaan tersebut dianggap sebelah mata, karena menghasilkan batu bara dengan kualitas yang dinilai rendah.
Sejumlah bank enggan meminjami dana guna pembangunan jalan untuk pengangkutan batu bara dari pedalaman Kalimantan Selatan tersebut, dengan alasan kualitas batu bara yang rendah.
Akhirnya, pemegang saham menyediakan dana pembangunan sebesar AS$20 juta pada tingkat keuangan komersial untuk pembangunan dan pengembangan operasi Adaro .
Dengan catatan, persyaratan bahwa pendanaan selanjutnya untuk pengembangan tambang batu baradi Kalimantan Selatan tersebut berasal dari arus kas.
Singkat cerita, setelah melakukan pengembangan beberapa kali, tambang batu bara di Kalimantan Selatan tersebut akhirnya membuktikan bahwa kualitas batu bara di sana tidak rendah.
PT Adaro Indonesia terus alami peningkatan tren penjualan batu bara di berbagai daerah dan negara-negara terkemuka.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi