Berjaya Selama 45 Tahun, Pabrik Kertas Berkapasitas 160 Ribu Ton di Banten Ini Harus Bangkrut, Penyebabnya…

inNalar.com – Banten merupakan salah satu provinsi di ujung Pulau Jawa yang tentunya banyak pabrik dan industri besar di dalamnya.

Provinsi Banten sendiri termasuk salah satu kawasan yang jaraknya cukup dekat dengan ibukota Jakarta.

Tentunya dekat dengan pusat bisnis nasional, tingkat perekonomian di Provinsi Banten cukup pesat.

Baca Juga: Anggarkan Dana Pilkada 40 Persen, Kabupaten Gowa di Sulawesi Selatan Setor Rp30 Miliar untuk Tahun 2023

Hal tersebut dapat dibuktikan dengan berkembangnya sektor industri di Provinsi Banten.

Di Provinsi Banten sendiri terdapat beberapa pabrik besar yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Banten.

Salah satunya pabrik kertas di Provinsi Banten, yang tak lain merupakan salah satu penyumbang produksi kertas nasional terbesar.

Baca Juga: Letaknya di Kedalaman 600 M, Tambang Hijau di Sumbawa Barat NTB Ini Miliki Kandungan Tembaga Terkaya di Dunia?

Pabrik kertas di Banten ini mulai bediri pada tahun 1972 dan berpusat di Jl. Arya Kemuning, Kota Tangerang, Provinsi Banten.

Berjaya selama 45 tahun, tak selamanya nasib baik menghampiri pabrik kertas di Banten ini.

Pabrik kertas di Banten tersebut mengalami masalah keuangan dan akkhirnya hal ini menyebabkan tutupnya pabrik ini.

Baca Juga: Berikut 5 Ratu Drama Korea atau Drakor Paling Terkenal Sepanjang Masa, Song Hye Kyo Nomor Berapa?

Selama beroperasi, diperkirakan pabrik kertas ini sanggup menghasilkan produksi kertas sebanyak 160 ribu ton per tahun.

Dengan kapasitas produksi sebanyak 160 ribu ton kertas per tahun, pabrik kertas ini jadi yang terbesar di Provinsi Banten.

Pabrik kertas terbesar di Provinsi Banten ini dikenal dengan nama PT Asia Paper Mills.

Pabrik kertas PT Asia Paper Mills ini mengakhiri perjalanan panjang masa kejayaannya pada tahun 2017 silam.

Pengadilan Niaga Jakarta Pusat telah memutus resmi bahwa pabrik kertas berusia 45 tahun tersebut pailit.

Pailitnya pabrik kertas PT Asia Paper Mills ini ditengarai oleh hutang yang menggunung mencapai Rp568 miliar kepada 32 kreditus.***

Rekomendasi