

MOJOKERTO, inNalar.com – Seorang pria asal Jawa Timur berhasil menemukan istana megah bawah tanah.
Awalnya, sang penemu (Musta’in) mendapat petunjuk melalui mimpi untuk menggali istana bawah tanah di Jawa Timur.
Hal itu bermula pada tahun 2000-an, tak lama warga Jawa Timur tersebut lalu segera melakukan penggalian.
Baca Juga: Tak Sekedar Ibadah, Ternyata Ini Hikmah Sholat dalam Kehidupan Sehari-hari, Bisa Menyegarkan Tubuh!
Penggalian ini berlokasi di pekarangan rumah Musta’in yang tidak terlalu luas.
Terhitung selama 23 tahun, ia terus menggali dan menembus pengapnya udara bawah tanah.
Hingga pada akhirnya, ditemukanlah ruangan yang luas nan dihiasi lafadz Allah.
Baca Juga: Soal Politik Uang ala Prabowo Subianto yang Sebut Terima Saja, Ternyata Begini Alasannya!
Selain itu juga terlihat sebuah makam tua yang diduga merupakan leluhur pria asal Jawa Timur tersebut.
Lebih lanjut, sumur tua dengan kedalaman 12 meter yang berada tak jauh dari makam.
Saat ditelusuri lebih dalam ada beberapa lorong panjang yang gelap.
Baca Juga: Daerah Penghasil Wanita Tercantik di Sulawesi Utara: Juaranya Bukan Bitung atau Tomohon, Tapi…
Semakin ke dalam istana bawah tanah di Jawa Timur itu, akses semakin sempit.
Mustain sendiri merupakan warga dari salah satu Kabupaten di Jawa Timur yang masih kental dengan peninggalan Majapahit.
Tahun 2022 juga ditemukan peninggalan jaman dahulu di cagar budaya di kawasan Bhre Kahuripan.
Baca Juga: Omset Turun Drastis, Pabrik Kecap Legendaris di Probolinggo Jawa Timur Ini Resmi Gulung Tikar Sejak…
Tatanan bata kuno yang luas berada di bawah tanah sukses membuat para ahli tercengang.
Struktur bata kuno berdimensi 1,5 x 1,5 meter yang diketahui berusia ratusan tahun masih terlihat kokoh.
Penemuan yang menggemparkan Jawa Timur itu, memperkuat adanya peninggalan lain dari Majapahit.
Adapun Kabupaten di Jawa Timur yang ditinggali Mustain adalah Mojokerto.
Dilansir inNalar.com dari laman Pemkab, Mojokerto dulu disebut dengan nama Japan.
Nama itu muncul setelah adanya Perjanjian Giyanti pada 1755.
Perjanjian tersebut membagi wilayah Kesultanan Mataram menjadi 2 bagian, yakni Kesultanan Surakarta dan Yogyakarta.
Atas dasar tersebut, wilayah Japan (Mojokerto) dan Wirosobo (sekarang Mojoagung) kemudian dipecah.
Wilayah Japan untuk Kesultanan Yogyakarta, sementara Wirosobo untuk Kesultanan Surakarta.
Kemudian, muncul lagi perjanjian lain antara Sri Sultan HB III dan Gubernur Inggris, Raffles.
Melalui perjanjian itu, Sultan menyerahkan Japan dan beberapa wilayah lainnya ke Inggris.
Karena Surakarta dan Yogyakarta sempat bersatu memerangi Inggris, tapi gagal, lanyas mereka harus dihukum.
Hukumannya adalah Kesultanan Surakarta wajib menyerahkan daerah Wirosobo, Kedu, Blora dan Pacitan.
Tepat di tahun 1816, setelah Inggris hengkang, masa pemerintahan kembali beralih ke tangan Belanda.
Saat Belanda berkuasa, Wirosobo dan Japan disatukan lagi ke dalam Kabupaten Japan, yang kemudian berubah jadi Mojokerto.
Nama Mojokerto dipilih sebagai penyemangat kerja di berbagai bidang.