
inNalar.com – Polemik tentang gaji dosen di Indonesia kembali disorot tajam, memicu bincang panas yang menggugah sentimen publik, karena menggelitik rasa keadilan. Apalagi dengan fantastisnya biaya pendidikan di perguruan tinggi dalam negeri—yang bahkan terus meroket, tanpa diiringi penghormatan yang pantas bagi sang katalisator pendidikan, situasi ini bagai cermin retak yang memantulkan satu kenyataan pahit.
Di media sosial contohnya, perdebatan ini seringakali muncul yang juga berbarengan dengan cuitan bernada tajam, tagar #JanganJadiDosen ini tampak seperti cerminan rasa frustasi bagi mereka yang sudah merasakan getirnya realitas.
Bayangkan saja, gaji yang diterima dosen Indonesia masih jauh dari kata layak, karena tidak sebanding dengan beratnya tanggung jawab yang mereka pikul.
Baca Juga: Berlokasi di Temanggung, Pesantren Ini Khusus untuk Santri Tunarungu dan Tunawicara
Apalagi jika dibandingkan dengan negara maju seperti Belanda, perbedaan ini terasa kian mencolok karena dosen disana diperlakukan bak permata—dengan besaran gaji yang tinggi, pun ditunjang dengan fasilitas serba wah.
Sementara di Indonesia, dosen yang ber-notabene sebagai pembuka gerbang ilmu pengetahuan, malah justru masih berkelindan hanya untuk sekedar bertahan hidup.
Bukankah ini adalah sekian dari banyaknya ironi pilu yang menancap dalam sejarah bangsa? Para dosen, mereka seharusnya menjadi pondasi peradaban, bukan malah terabai dan tenggelam dalam kubangan kebijakan yang karut-marut.
Baca Juga: Persawahan Yogyakarta ‘Disulap’ Jadi Eko Pesantren Assalafiyyah Mlangi, Begini Tampilannya
Jadi, tidak mengherankan apabila kualitas pendidikan di Belanda lebih melesat dan melampaui batas ekspektasi, jika dibandingkan dengan di Indonesia.
Berapa besaran perbedaan antara gaji dosen di Indonesia dengan dosen di Belanda? Lalu, mengapa profesi se-prestisius dengan tanggung jawab serupa bisa dihargai berbeda?
Menyadur konten Youtube Samuelchrist, dibeberkan fakta bahwa dosen Indonesia ini diklasifikasi menjadi tiga kelompok; dosen negeri, dosen swasta, dan dosen PNS. Kendati titel ‘PNS’ yang seharusnya membawa satu prestise, tapi realitanya mereka juga menerima upah selayaknya dosen di instansi lain.
Disebutkan oleh content creator, bahwa gaji dosen negeri pun juga bergantung pada tingkat pendidikan, biasanya untuk dosen lulusan S-2 dan S-3 akan menerima upah dengan range Rp 2.600.000 – Rp 4.700.000. Sedangkan untuk gaji dosen swasta berkisar antara Rp 2.000.000 – Rp 5.000.000.
Menyadur Youtube yang berbeda, konten JerhemyOwen yang mana beliau tengah berinteraksi dengan salah satu dosen Belanda berkebangsaan Indonesia.
Dosen ini Bernama Widya, beliau bekerja di Avans University of Applied Sciences, Fakultas Academy of Life Sciences and Technology, program studi Applied Sciences: Water and Waste Water Treatment.
“Kalau jadi dosen di Belanda, sih, minimal harus S-2, ya! Master of Science atau Master of Arts, tapi tergantung bidangnya apa. Kalau aku sendiri, aku lulusan Master of Science dari Tu Delft Belanda.
Nah, untuk range gajinya di angka 3.500 – 4.000 Euro, itu sekitar Rp 58.000.000 – Rp 66.000.000, tapi itu juga tergantung pengalaman, sih.” ucap Widya, disadur pada 09 Januari 2025.
Perbedaan yang sangat mencolok, bukan? Perbedaan gaji dosen Indonesia dan Belanda ini tentu bukan perihal angka, melainkan satu potret ironi yang nyata terjadi di sini. Bagaimana mungkin Indonesia mengklaim bahwa prioritas utamanya pendidikan, tapi malah melupakan sang pahlawan yang menjaga garda terdepan?
Inilah saatnya untuk mereformasi kebijakan, bahwa agenda prioritas harus kembali dialihkan demi memajukan pondasi pendidikan yang masih ringkih.
Karenanya, penghormatan kepada profesi dosen di Indonesia sudah harus dilakukan—agar tidak lagi jadi satu wacana yang kosong. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi