Dana Rp9,8 Triliun dari 4 Investor, Smelter Bauksit Pertama di Indonesia Ada di Ketapang, Kapasitasnya…

inNalar.com – Gunakan anggaran hingga 1 miliar dolar, smelter bauksit di Ketapang Kalimantan Barat akan memiliki kapasitas 2 juta ton per tahun.

Pada tahun 2013, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Susilo Siswoutomo didampingi Direktur Jenderal Mineral dan Batubara, Thamrin Sihite melakukan peletakkan batu pertama untuk Pembangunan Smelter Bauksit di Ketapang.

Pembangunan proyek Smelter Bauksit dibangun di Kendawangan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat yang berasa dari investasi PT Well Harvest Winning Alumina.

Baca Juga: Mangkrak 16 Bulan! Smelter Bauksit yang Gandeng China di Kalimantan Barat Kini Justru Berjalan Cepat, Mengapa?

Andari Bukhari selamu Sekertaris Jenderal Kementerian Perindustrian mengatakan bahwa pada tahun 2013 belum ada landik yang bisa mengolah bauksit menjadi alumina, biasanya Indonesia mengimpor langsung alumina dari luar negeri.

Pembangunan smelter bauksit di Ketapang, Kalimantan Barat tersebut membutuhkan dana hingga 1 miliar dolar atau setara dengan Rp 9,8 triliun.

Dana tersebut diperoleh dari investasi Well Harvest Winning Alumina merupakan payungan investasi lokal dan China.

Baca Juga: Rugikan Rp6,75 Triliun! Smelter Bauksit yang Gandeng China di Kalbar Ini Sempat Mangkrak 16 Bulan, Mengapa?

Investor yang tergabung dalam Well Harvest Winning Alumina adalah investor lokal oleh PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) memegang kepemilikan 25 persen saham, 60 persen dipegang oleh China Hongqiao Group Limited, Winning Investment (HK) Company Limited (10 persen) dan PT Danpac Resources Kalbar 5 persen.

Berdasarkan data dari website resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Investasi Pembangunan smelter bauksit dibagi menjadi dua pembangunan yang pertama kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun yang diharapkan dapat beroperasi pada tahun 2015.

Kedua penambahan kapasitas produksi sebesar satu juta ton per tahun yang dijadwalkan bisa beroperasi pada tahun 2017.

Baca Juga: Tingkatkan Kapasitas Produksi, Perusahaan Tambang Bauksit di Kalbar Ini Berencana Bangun Jalan 41 Km

Menurut Ansari, pembangunan smelter bauksit di Ketapang Kalimantan Barat ini bisa mengisi kekosongan industri aluminium di sektor hulu.

Struktur dari industri alumunium nasional terputus karena bauksit sebagai cadangan bahan baku utama 100 diekspor ke luar negeri.

Setelah diolah menjadikan alumina, industri nasional melakukan impor 100% untuk diolah menjadikan aluminium ingot.

PT Indonesia Asahan aluminium (Inalum) merupakan satu-satunya produsen ingot nasional, PT Inalum memperoleh pasokan alumina 100% dari impor.

Sehingga dengan dibangun nya smelter bauksit pertama di Indonesia yang ini bisa mengurangi kapasitas impor bahan baku dari luar negeri.

Hal tersebut bisa berdampak pada penurunan biaya produksi, karena Indonesia kaya akan sumber daya alam namun kekurangan dalam hal infrastruktur.

Dengan hadirnya smelter bauksit di Ketapang Kalimantan Barat bisa membantu memajukan perekonomian Kalimantan Barat dan Indonesia.***

 

Rekomendasi