

inNalar.com – Desa Waerebo di Flores dijuluki sebagai surga diatasi awan yang terletak di Desa Satar Lenda, Kecamatan Satar Mase Barat yang berbatasan langsung dengan taman Nasional Komodo.
Dijuluki sebagai surga diatas awan, Desa Waerebo Flores NTT ini ternyata memiliki ketinggian 1.100 meter diatas permukaan laut.
Waerebo adalah sebuah desa terpencil yang indah. Waerebo dikelilingi oleh pegunungan serta keindahan hutan tropis yang lebat di Kabupaten Manggarai, Pulau Flores.
Baca Juga: Gen Z Fomo Nikah Muda, Ustadz Adi Hidayat Ingatkan 4 Hal Ini Agar Tidak Salah Pilih Pasangan
Berdasarkan sumber dari website resmi kemenparekraf, keindahan dan keunikan dari Desa Waerebo di Flores sehingga pada Agustus 2012 Kampung adat Waerebo meraih Award of Excellence.
Tidak hanya itu, anugerah tersebut merupakan anugerah tertinggi yang ada di UNESCO Asia-Pacific Awards for Heritage Conservation 2012 di Bangkok.
Dengan keindahannya Desa Waerebo dijuluki sebagai surga diatasi awan yang menyuguhkan keindahan alam dan arsitektur rumah adat berbentuk kerucut yang sangat unik atau dalam bahasa lokal disebut Mbaru Niang.
Baca Juga: Desa Pengerajin Keris Legendaris di Sumenep, Madura Ini Raih Rekor MURI dan ADWI 2022, Namanya…
Bertonggak pada cerita legenda masyarakat setempat, nenek moyang atau penemu dari desa Waerebo di Flores berasal dari Minangkabau.
Nama dari nenek moyang atau penemu dari Waerebo di Flores adalah Empo Maro yang sedang melakukan pelayaran pada saat tu dari Pulau Sumatera hingga ke Labuan Bajo.
Empu Maro melarikan diri dari desanya yang disebabkan karena dirinya difitnah dan ingin dibunuh, lalu ia merantau ke beberapa kota.
Baca Juga: Pratama Arhan Siap Dikontrak Klub Papan Atas Korea K League 1 dalam Bursa Transfer Musim Panas Ini
Pertama kalinya Empu Maro singgah di Gowa Sulawesi, lalu berpindah ke beberapa daerah lain, dalam pengembaraannya Empu Maro menemukan seorang istri.
Sehingga pada pengembaraan selanjutnya ia bersama dengan istrinya. Pada suatu malam Empu Maro bermimpi bertemu dengan petua yang menyampaikan padanya untuk menetap di Kampung Waerebo.
Berbekal mimpi tersebut Empu Maro dan istrinya kembali berlayar dan mencari Desa Waerebo, singkat cerita setelah mereka menemukan desa Waerebo di Flores mereka menetap di sana.
Desa Waerebo merupakan sebuah Kampung di Flores NTT yang hanya memiliki 7 rumah utama atau yang biasa disebut sebagai Mbaru Niang.
Rumah Mbaru Niang memiliki lima tingkatan, dimana setiap tingkatan memiliki tujuan atau makna tertentu.
Tingkat pertama disebut lutut atau tenda yang difungsikan sebagai tempat tinggal keluarga besar.
Tingkat kedua, disebut sebagai lobo atau loteng yang difungsikan sebagaimana tempat menyimpan makanan dan barang-barang.
Tingkat ketiga disebut lentar yang difungsikan sebagaimana tempat penyimpanan benih untuk musim tanam selanjutnya.
Tingkat keempat disebut lempar Taeyang difungsikan sebagai tempat untuk menyimpan persediaan makanan jika terjadi kekeringan.
Baca Juga: Unik! Atap Rumah Penduduk di Desa Wisata Sulawesi Tengah Ini Bisa Dibuka Tutup, Apa Fungsinya?
Tingkat kelima yang merupakan tingkat terakhir disebut gelang kode yang dianggap sebagai tempat paling suci karena difungsikan sebagai tempat persembahan untuk leluhur.
Masyarakat desa Waerebo hanya berpopulasi kecil yaitu sekitar 1.200 jiwa yang mendiami 7 rumah utama. Makanan pokok dari masyarakat desa Waerebo di Flores adalah singkong dan jagung.
Akan tetapi, di sekitar Waerebo mereka juga menanam kopi, vanili, dan Kayu manis yang dijual ke pasar dengan letak 15 km dari desa.
Sekarang, desa Waerebo di Pulau Flores ini banyak dikunjungi wisatawan yang mencintai ekowisata.
Wisatawan tidak hanya berasal dari lokal tetapi hingga wisatawan mancanegara. Sehingga tentunya hal tersebut bisa meningkatkan ekonomi masyarakat Waerebo.
Bila ingin wisata ke Desa Adat Waerebo, wisatawan bisa memulai perjalanan dari Bandara Komodo yang terletak di Labuan Bajo. Selanjutnya berangkat menuju Kota Ruteng.
Ada beberapa transportasi yang bisa dipilih seperti travel atau menyewa mobil pribadi.
Setelah melakukan perjalanan 3-4 jam dilanjutkan dengan menaiki ojek selama 3-4 jam menuju Denge yang merupakan desa terakhir sebelum menuju ke Desa Adat Waerebo.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi