

inNalar.com – Shift malam adalah hal yang lumrah di dunia kerja apalagi yang dibutuhkan untuk selalu ada selama 24 jam.
Namun, sering kalanya mereka yang bekerja di shift malam merasa kesulitan untuk tetap membuka mata mereka agar tidak tertidur.
Namun, dari hasil studi atau penelitian yang dilakukan oleh Sanae Oriyama, seorang ilmuwan biomedis di Hiroshima University, Jepang.
Dalam penelitian yang dilakukannya, Sanae Oriyama menemukan waktu tidur yang pas bagi manusia agar tidak mengantuk saat tengah bekerja di shift malam.
Penelitian tentang waktu yang pas agar tidak mengantuk di shift malam ini dilakukan dengan melakukan tiga studi percontohan yang melibatkan sebanyak 41 orang peserta.
Dilansir inNalar.com dari Science Alert, penelitian ini dilakukan dengan mengelompokkan beberapa peserta ke tiga kelimpok berbeda.
Baca Juga: Dijuluki ‘Planet Sembilan’, Planet Ini Diklaim Mirip Bumi dan Bersembunyi di Dalam Ruang Tata Surya
Kelompok pertama berisi 15 orang peserta yang tidak tidur sama sekali saat sedang shift malam.
Kemudian, kelompok kedua berisi 14 peserta yang tidur selama 120 menit (dari jam 10 malam hingga jam 12 malam).
Selanjutnya, kelompok ketiga berisi 12 orang yang waktu tidurnya dibagi menjadi dua, yakni 90 menit (dari jam 10.30 malam hingga jam 12 malam) dan 30 menit (dari jam 2.30 hingga jam 3.00 pagi).
Sanae Oriyama menggunakan tes Uchida-Kraepelin, sebuah cara standar untuk mengukur kecepatan serta akurasi seseorang pada suatu tugas.
Dengan menggunakan tes tersebut, ilmuwan biomedis ini menilai para peserta setiap jam sepanjang shift malam berlangsung. Mereka juga diminta untuk menilai tingkat rasa lelah yang mereka rasakan.
Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa mereka yang tidur selama 120 menit, rasa kantuk mulai menyerang pada jam 04.00 pagi.
Baca Juga: Temuan Bangkai Perahu Berusia 1800 Tahun di Makam Keramat Bekasi, Bisa Kabulkan Hajat, Benarkah?
Sedangkan mereka yang tidur dua kali, yakni 90 menit dan 30 menit, rasa kantuk datang pada jam 06.00 pagi.
Meskipun begitu, rasa lelah tetap dirasakan oleh semua peserta.
Selain itu, didapatkan juga hasil bahwa pola tidur di atas tidak meningkatkan kemampuan kognitif peserta peserta.
Meskipun begitu, mereka ynga tidur selama 120 mneit, memiliki nilai kemampuan kognitif lebih nuruk dibandingkan mereka yang tidur selama 90 dan 30 menit.
Penelitian menunjukkan dibutuhkan 90 menit untuk dapat menyelesaikan proses satu siklus tidur secara penuh.
Apabila bangun sebelum siklus ini selesai, rasa pening dan juga disorientasi dapat dirasakan oleh mereka saat pertama kali bangun tidur.
Namun, apabila waktu tidur diperpanjang, kelelahan serta rasa kantuk yang akan dirasakn saat bangun juga akan meingkat.
Baca Juga: Gen Z Fomo Nikah Muda, Ustadz Adi Hidayat Ingatkan 4 Hal Ini Agar Tidak Salah Pilih Pasangan
Sebaliknya, tidur singkat selama 30 menit atau kurang membantu meingkatkan rasa awas, kewaspadaan, serta tingkat energi.
“Hasil penelitian ini dapat diterapkan tidak hanya pada pekerja shift malam, namun juga untuk meminimalkan kelelahan akibat kurang tidur pada ibu yang (sedang) membesarkan bayi,” ucap Sanae Oriyama seperti yang dikutip dari NEWS Medical Life Sciences.***