

inNalar.com – Setelah menempuh perjalanan miliaran kilometer, misi NASA mencapai puncaknya dengan sebuah kapsul hitam kecil yang melesat di langit sebelum mendarat di gurun Utah.
Di dalamnya kemungkinan terdapat sampel debu dan batuan terbesar yang pernah dikembalikan dari asteroid.
Diekstraksi dan dibawa kembali dengan kecerdikan teknis yang luar biasa dari asteroid bernama Bennu.
Baca Juga: Menari di Atas Kobaran Api! Tari Zapin Api Sarat Budaya dan Mistis Ditemukan di Pulau…
Para ilmuwan akan mempelajarinya untuk mencari petunjuk tentang asal usul Tata Surya dan kehidupan itu sendiri.
Dilansir inNalar.com dari laman situs The Conversation, misi tujuh tahun tersebut membawa OSIRIS-REx ke asteroid dekat Bumi yang kaya karbon.
Dan mengorbitnya selama dua setengah tahun, lalu memetakan permukaannya dan juga mengukur sifat-sifatnya seperti kepadatan dan putarannya.
Baca Juga: 5 Fakta Unik Agar Dirimu Lebih Terlihat Cerdas dan Berwawasan: Ada Cabai yang Buat Nyawa Melayang!
Asteroid “tumpukan puing” ini juga memiliki kemungkinan (sangat) kecil suatu hari nanti akan berdampak pada Bumi
Sehingga dibutuhkan pengukuran yang rumit pada orbitnya dan dinamika lainnya juga merupakan tujuan misi.
Sebagian besar asteroid adalah sisa-sisa batuan dari planet-planet yang gagal dan tabrakan destruktif di awal Tata Surya, yang mengorbit di sabuk antara Mars dan Jupiter.
Baca Juga: Ada Dana Hasil Riba, Buya Yahya Jelaskan Cara Bersihkan Harta Haram, Jangan Sekalipun Disimpan!
Asteroid mempunyai ukuran, bentuk, dan komposisi yang sangat bervariasi, dan dengan mengetahui bahan penyusunnya ini dapat membantu para ilmuwan mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana planet terbentuk.
Menurut NASA, benda-benda primitif yang sebagian berusia lebih dari 4,5 miliar tahun juga dapat dijelaskan asal usul kehidupan.
Hal ini dikarenakan benda-benda tersebut memberi tahu tentang distribusi air, mineral, dan unsur-unsur lain seperti karbon.
Baca Juga: Pengamat Akui Langkah Tegas PSSI soal Pemanggilan Pemain ke Asian Games Bernilai Positif
Selain itu terdapat juga unsur kepentingan pribadi dalam mempelajari asteroid-asteroid ini, untuk memahami risiko yang mungkin ditimbulkannya jika mereka menuju ke arah Bumi.
Dalam misi pengembalian sampel tersebut merupakan standar emas untuk menganalisis susunan benda-benda luar angkasa.
Para peneliti dapat membawa potongan-potongan dari planet atau asteroid lain kembali ke Bumi untuk dipelajari.
NASA mengatakan bahwa dirinya mengetahui Bulan terbuat dari bahan yang sama dengan Bumi, dan kemungkinan besar terbentuk dari puing-puing yang mengorbit setelah terjadi tumbukan raksasa.
Misi pengembalian sampel ini secara teknis sangat menantang. Pesawat luar angkasa tidak hanya harus melakukan perjalanan ratusan juta kilometer dari Bumi.
Namun juga harus menyesuaikan kecepatan dengan targetnya (bukan sekadar memperbesar jarak), menemukan lokasi pendaratan yang aman, mendarat untuk mengambil sampel (tanpa menabrak), menyimpannya sampel dalam kapsul tertutup, lepas landas lagi, dan kembali ke Bumi.
Baca Juga: Luasnya 7,650 Ha, Perusahaan Marmer di Jawa Timur Ini Dijual Pemerintah ke Pihak Swasta, Lokasinya…
Sebagian besar proses ini harus dilakukan secara otonom, karena waktu tunda komunikasi dengan Bumi terlalu lama untuk dikendalikan dari jarak jauh.
Selain sampel bulan yang dikembalikan oleh misi Apollo, OSIRIS-REx mempunyai misi keempat untuk mengembalikan material luar bumi ke Bumi.***