
inNalar.com – Kantin elit berkonsep prasmanan seringnya ditemukan pada sekolah berstandar internasional. Namun, salah satu pesantren yang terletak di Jawa Barat ini juga mengadopsi konsep ini.
Alih-alih menjadikannya sebuah kantin elit layaknya sekolah internasional, rupanya pihak pesantren justru ingin mengajarkan makna khusus di balik konsep tradisi makanan prasmanan.
Pada umumnya, tradisi makan para santri di pondok asrama Islam biasanya menggunakan sistem ngaliwet berjejer panjang atau langsung menyantap makanan dari kotak catering yang sudah tertata rapi.
Namun, ada yang beda dengan pondok yang satu ini. Setiap jam makan, para santri akan menuju kantin khusus yang telah tersedia berbagai hidangan lengkap mulai dari nasi, lauk, sayur hingga buah-buahan.
Kurang lebih gambarannya persis sebagaimana siswa sekolah internasional di berbagai daerah di Indonesia, tidak hanya Jawa Barat.
Bahkan konsep prasmanan ini pun sering terlihat digunakan di sejumlah sekolah Tiongkok, Korea, Jepang, dan Amerika Serikat, kan?
Inilah Pesantren Al Ma’soem yang terletak di Jalan Raya Cipacing No. 22, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Pihak pondok sengaja menerapkan tradisi makan prasmanan bagi santrinya karena sejumlah alasan khusus.
Alasannya tentu bukan karena sistemnya yang elit, tetapi justru santrinya hendak diajarkan untuk mengenal dirinya sendiri.
Pembiasaan tradisi makan prasmanan memang akan menjadi sistem yang amat menguntungkan bagi para santri yang tengah dalam kondisi super lapar.
Bisa dibayangkan, nasi menggunung dengan lauk sayur yang diambil sepuasnya. Namun justru di pesantren unik Jawa Barat ini hendak mengajarkan para santrinya untuk bisa terbiasa menakar diri seberapa banyak porsi yang akan diambil.
Jika terlalu banyak mengambil dan berakhir tersisa di atas piring, ada konsekuensi dari pihak pengelola pondoknya.
“Berbagi di sini bukan berbagi makanan secara langsung, tapi lebih kepada bagaimana mereka membawa makanan sesuai dengan porsi yang dikira mereka mampu untuk menghabiskannya. Karena jika tidak mereka akan mendapatkan hukuman dari pengelola pesantren,” dikutip dari laman resmi pesantrennya pada Sabtu, 18 Januari 2025.
Konsekuensi dapat dikatakan berupa hukuman yang diharapkan dengan hal tersebut, para santrinya dapat belajar untuk lebih menghargai keberadaan santri lain.
Jangan sampai kawan-kawannya tidak kebagian makan, sedangkan di sisi lain ada yang menyisakan makanannya.
Lebih dalam dari itu, tahukah bahwa dalam sebuah tulisan ilmiah Poltekkes Jogja sistem prasmanan juga ternyata dapat memberikan kepuasan psikologis lho.
Baca Juga: 3 SD Nasional Plus Terbaik di Medan ini Biaya Masuknya Fantastis, Tembus Rp 54 Juta per Tahun!
Dengan konsep kantin prasmanan, santri akan merasa diistimewakan dan diperhatikan oleh pihak pengelola pesantren sekaligus mereka belajar untuk bertanggung jawab terhadap makanan yang dikonsumsi mereka.
Adapun setelah para santri telah menyelesaikan makanan mereka, tentunya tanggung jawab cucian piring tetap diserahkan pada pihak santrinya.
Inilah mengapa kemudian pesantren Al Ma’soem di Sumedang, Jawa Barat sering disebut sebagai pondok modern.
Baca Juga: Program MBG Kuras Dana Rp71 Triliun, Pakar UGM Wanti Wanti Jangan Sampai Jadi Ladang Korupsi
Pasalnya, dari salah satu sistem atau tradisi makan mereka dipandang berani beda dan maju.***