Heboh! Aksi Baik Pandawa Diboikot Kades dan Karang Taruna Cibutun Sukabumi, Simak Kabar Terbarunya


 
inNalar.com – Beberapa hari terakhir dunia Maya dihebohkan dengan kasus Pandawa dan kampung Cibutun, Simpenan, Sukabumi.
 
Bagaimana tidak, berawal dari postingan mengenai kondisi pantai di pesisir Loji, Cibutun yang viral dan banjir komentar netizen.
 
Lebih lanjut, postingan ini mendapat respon dari Kades dan karang taruna Simpenan, Sukabumi. 
Baca Juga: Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo Menjadi Tersangka, Apakah Indeks Korupsi di Indonesia Masih Tinggi?
 
Kades Cibutun Sukabumi tidak terima dengan statement dari group Pandawa yang menyatakan bahwa pantai Cibutun menjadi pantai dengan urutan ke 4 terkotor di Indonesia.
 
Selanjutnya, pihak karang taruna meminta adanya klarifikasi dari Pandawa mengenai pernyataan tersebut. 
 
Bahkan, Karang taruna hingga melayangkan ancaman somasi jika tidak dilakukan.
 
Selain itu, niat baik dari pemuda yang tergabung dalam Pandawa ini juga ditolak oleh Kades setempat.
 
Dia tidak mengijinkan adanya pembersihan di area pantai. Ini dikarenakan pihak pemerintah merasa tidak ikut melakukan inisiasi atas ide yang digaungkan oleh itu.
 
Banyak publik figur dan tak sedikit netizen yang memberikan dukungan melalui kolom komentar di akun media sosial mereka @pandawagroup.
 
“Gue suka cara kalian. Lanjutkan!” tulis akun @husein_haidar, ustadz kondang satu ini mengomentari kasus Pandawa.
 
“Kami mendukung.” ungkap akun @ikram_afro pada gruop Pandawa
 
“KALIAN (PANDAWA) KEREN TERUS.” tulis akun@ejaak_15
 
“#KAMIBERSAMAPANDAWA.” Kata akun @mukhlishrahmann
 
Dengan viralnya berita penolakan Kades atas Pandawa membersihkan pantai Loji di Cibutun hingga masuk trending topik di Twitter. 
 
Kabar baiknya, melalui postingan terbaru mereka, Pandawa group dan pihak karang taruna telah melakukan pertemuan.
 
Dalam sebuah kesempatan salah satu anggota group ini, Gilang Rahma mengungkapkan “Urutan pantai terkotor di posisi ke 4 berdasarkan kunjungan kami.”
 
Gilang juga menjelaskan bahwa tidak ada unsur penolakan dari pihak-pihak terkait. Melainkan, dukungan penuh dari mereka sejak awal aksi ini.
 
Ia menutup statement dengan menyampaikan “Stop untuk saling menyalahkan, stop untuk berasumsi dan berkomentar negatif.”
 
Dalam caption terakhirnya, mereka menuliskan bahwa seorang pejuang itu mempersatukan, bukan malah memecah belah persatuan.
 
Dari kasus ini kita belajar untuk menurunkan ego dalam menyelesaikan masalah tidak dengan memperdebatkan. 
 
Demikianlah kasus Pandawa dan Kades beserta Karang Taruna Cibutun, Sukabumi yang bergulir.***
 
 

Rekomendasi