Kisah Pilu Oei Hui Lan, Putri Konglomerat Semarang Jawa Tengah yang Sempat Jadi Ibu Negara Tiongkok

inNalar.com – Kisah Oei Hui Lan, yakni seorang putri raja gula asal Semarang, Jawa Tengah yang hidup bergelimang harta, tetapi berakhir hidup sebatang kara.

Oei Hui Lan dikenal luas di kalangan masyarakat Indonesia sebagai anak konglomerat Semarang, tetapi ternyata dirinya pun memiliki rekam jejak kisah gemilang dengan versi yang berbeda dari ayahandanya.

Lukisan fenomenal yang mengabadikan potret Oei Hui Lan di sebuah hotel Tugu Malang, Jawa Timur seolah mengisyaratkan bahwa dirinya tetap dikenang tak hanya bagi warga Semarang dan Jawa Tengah saja.

Baca Juga: Mengenal Ir Sutami, Disebut Menteri Termiskin dan Anti Korupsi Sepanjang Sejarah RI, Era Presiden Siapa?

Sebagian orang mengenal Oei Hui Lan sebagai sosok yang misterius, karena lukisannya yang membelakangi cermin kuno seolah menimbulkan kesan dingin dan mistis.

Namun ternyata di balik aura yang misterius tersebut, tersimpan jejak gemilangnya yang bercampur dengan kisah tragis.

Oei Hui Lan adalah seorang putri kedua dari pengusaha gula asal Semarang, Jawa Tengah yang dahulu dinobatkan sebagai orang terkaya se-Asia Tenggara.

Baca Juga: Sosok Habib Muhammad Alex Alhamid, Kakek Paruh Baya Jadi Status di WhatsApp, Bakal Dapat Mobil Baru?

Sedikit mengenai ayahnya yang bernama Oei Tiong Ham, beliau adalah seorang pebisnis sukses yang mengelola sebuah perusahaan besar di bidang perdagangan hasil bumi.

Salah satu usaha yang dinilai paling sukses adalah bisnis gulanya di perdagangan Asia, bahkan taraf dunia sekalipun.

Kelahirannya membawa keberuntungan bagi keluarganya sebab kehadirannya dinilai membuat bisnis gula ayahnya sangat melejit. Oleh karena itulah, ia menjadi anak kesayangan ayahnya, Oei Tiong Ham.

Baca Juga: Didirikan Pada 1889, Istana di Kabuaten Siak, Riau Ini Miliki Nilai Sejarah dan Arkeologi yang Tinggi

Adapun wanita cantik berdarah etnis Tionghoa-Indonesia ini tinggal di istana megah seluas 93 hektare milik ayahnya dan hidup bergelimang harta sejak ia kecil.

Namun di balik kekayaan berlimpah tersebut, ternyata kesepian lah yang menyelimuti hari-harinya.

Rasa kesepian Oei Hui Lan pun memuncak ketika ayahnya membuatkan pesta ulang tahun megah untuknya, dengan berbagai dekorasi glamor ditambah dengan merdunya musisi Batavia.

Hal yang menyedihkannya adalah tak ada satupun yang hadir dalam pesta ulang tahunnya. Sebagai upaya menghibur dirinya, maka ayahnya membuat sebuah kebun binatang di halaman belakang istananya.

Tujuannya agar Oei Hui Lan bisa bermain bersama binatang-binatang yang dipelihara oleh keluarganya tersebut.

Suatu ketika ibundanya yang bernama Goei Bing Nio mengajak dirinya pergi jalan-jalan ke Eropa.

Berkat relasi keluarganya yang sangat elit, Oei Hui Lan bertemu seorang agen konsulat Inggris bernama Beauchamp Forde Gordon Caulfield Stoker.

Baca Juga: Kilas Balik Sejarah Kontroversial G30S PKI: Kisah Dramatis Gerwani hingga Penahanan Selama Belasan Tahun

Pertemuan tersebut membuahkan kisah cinta antara keduanya hingga akhirnya ia menikah dengan Konsulat Inggris tersebut pada 1909.

Usai pernikahan, mereka berdomisili di London dan Oei Hui Lan melahirkan buah hatinya yang pertama pada 1912 bernama Lionel Montgomery Caulfield Stoker.

Sejak kehidupannya di London itulah, dirinya banyak memiliki koneksi dengan orang-orang elit di London.

Wanita anggun ini banyak diundang ke pesta dansa dan banyak yang menilai dirinya memiliki selera berpakaian yang tak bisa diremehkan.

Namun lain halnya dengan suami Oei Hui Lan, Stoker merasa memiliki perbedaan gaya hidup dengan dirinya hingga seringkali keduanya bertengkar dan akhirnya berujung perceraian pada 1919.

Usai perceraiannya dengan Stoker, akhirnya wanita cantik asal Semarang ini memutuskan kembali ke negeri tercintanya, Indonesia.

Kepulangannya ke Semarang juga tak membuahkan kebahagiaan bagi dirinya sebab ia pun juga berkonflik dengan Lucy Ho yang merupakan istri muda ayahnya, Oei Tiong Ham.

Ketidaknyamanan tersebut akhirnya membuat putri kesayangan raja gula Semarang tersebut pindah lagi ke London bersama ibundanya, Goei Bing Nio.

Baca Juga: Dibangun Tahun 1896, Vihara di Lampung Ini Jadi Saksi Sejarah Peradaban Bangsa Tionghoa, Terdapat Patung…

Kepindahannya ke London justru membawa dirinya bertemu dengan pujaan hatinya sekali lagi, lelaki tersebut diketahui bernama Wellington Koo, seorang mantan menteri luar negeri Tiongkok.

Lalu keduanya pun melangsungkan pernikahan 9 November 1920 di Belgia, tetapi Oei Tiong Ham memilih untuk tidak hadir sebab tak sepenuhnya setuju dengan pernikahan mereka.

Mereka pun pindah ke Jenewa, Swiss dan Oei Hui Lan dan tak lama setelahnya melahirkan anak pertama dari suami keduanya yang bernama Yu-Chang Wellington Koo pada 1922.

Setahun kemudian ia pun melahirkan buah hatinya yang kedua bernama Fu Chang Freeman Koo.

Puncak kehidupan Oei Hui Lan bermula saat dirinya pindah ke Beijing, Tiongkok dan menjadi seorang ibu negara di sana.

Wellington Koo tercatat menjabat sebagai Presiden Tiongkok dengan status kepala negara pertama yang menggunakan nama barat secara terang-terangan pada 1926.

Menyedihkannya, usai pernikahan keduanya yang mencapai usia 38 tahun akhirnya keduanya memilih untuk berpisah, tepatnya pada 1958.

Oei Hui Lan semakin terpuruk sejak ayahandanya meninggal dan gagal dua kali dalam pernikahannya.

Terlepas dari berbagai kesedihan yang merundungnya, Oei Hui Lan menjadi sosok yang dihormati secara personal oleh berbagai negara Eropa.

Dikutip inNalar.com dari laman National Portrait Gallery, Vogue memuji Madame Koo sebagai warga dunia karena pemikirannya yang mencerahkan dalam menjembatani dunia Barat dan Timur.

Demikian kisah tragis Oei Hui lan yang mengajarkan kita bahwa tidak selamanya harta mampu membeli kebahagiaan dalam hidupnya.***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]