Heboh Binturong Milik Irfan Hakim Lahirkan ‘Bayi Jin’, Disebut Bermata Satu dan Punya Tanduk, Menyeramkan!

InNalar.com – Irfan Hakim dalam laman Instagramnya membagikan potret Anak Binturong yang baru saja lahir.

Dalam postingannya, Irfan Hakim mengatakan jika Binturong peliharaannya memiliki kelainan yang menyeramkan bahkan disebut mirip bayi Jin.

Anak Binturong milik Irfan disebut lahir dengan kondisi yang tak biasa atau cacat.

Baca Juga: Banyak Perusahaan Bangkrut! Bukan Surabaya, Daerah Ini Punya Pengangguran 8,8 Persen, Tertinggi di Jawa Timur

Hewan tersebut hanya dikatakan hanya memiliki satu mata dan terdapat tanduk dimatanya.

Sontak kelahiran hewan tersebut sangat mengejutkan Irfan Hakim dan tim yang berada di lokasi penangkaran karena menyeramkan seperti jin.

Lanjut, Irfan mengatakan bayi Binturong dengan kelainan tersebut kini dikabarkan sudah tak lagi bernyawa.

Baca Juga: Telan Dana Rp35 Miliar, Proyek Terminal di Purworejo Jawa Tengah Diramalkan Mampu Tampung 1.200 Penumpang

Atas kelahiran aneh dari hewan peliharaannya tersebut, Irfan Hakim pun memanggil dua ahli dari medis dan non medis.

Alasannya untuk mengetahui bagaimana hal tersebut bisa terjadi, diakui Irfan dirinya sebenarnya cukup takut melihat kelainan seperti itu pada hewan peliharaannya.

Tim medis Irfan menyebutkan, kelainan bayi tersebut saat lahir bisa disebabkan karena faktor genetik yang tidak sempurna.

Baca Juga: Alirkan Listrik dan Air, Bendungan Bodri di Kendal Senilai Rp1,744 Triliun Diwacanakan Rampung Pada 2026

Binturong yang memiliki nama latin Arctictis Binturong merupakan sejenis musang yang memiliki tubuh besar.

Sekilas, wajah hewan ini mirip dengan kucing dan beruang serta memiliki ekor yang panjang seperti anjing.

Hewan yang aktif didalam hari ini sangat ahli dalam melompat dan memanjat dahan pohon.

Persebaran habitat Binturong di Indonesia sendiri banyak ditemui di Jawa bagian Barat, Kalimantan, dan Sumatra.

Status keberadaan Binturong sendiri sudah masuk dalam kategori rentan punah.

Jumlah populasi Binturong disebutkan menurun hingga 30% pada 30 tahun terakhir ini.***

 

Rekomendasi