Bertaruh Nyawa! Penambang Belerang di Kawah Ijen Tercatat Sebagai Profesi Paling Berbahaya di Dunia

inNalar.com – Kawah Ijen adalah bagian paling dasar dari gunung berapi dengan ketinggian 2.386 meter di atas permukaan laut.

Kawah yang ada di dalam Gunung Ijen tersebut terletak di perbatasan Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.

Kawah Ijen tidak hanya memiliki pesona yang luar biasa. Tetapi ada banyak penambang belerang yang menggantungkan hidup dari lokasi tersebut.

Baca Juga: Gelar Ajang MotoGP 2023, Sirkuit Mandalika di Nusa Tenggara Barat Ditarget Raup Untung hingga Rp4,5 Triliun

Mereka menembus asap tebal beracun yang panas demi mendapatkan bongkahan belerang. Lalu harus naik dan turun jalan berbatu yang sangat terjal.

Para penambang melakukan hal ini setiap harinya demi menyambung kebutuhan ekonomi mereka.

Dilansir dari akun YouTube Jelajah Bumi, aktivitas penambangan belerang ini sudah berlangsung sejak masa penjajahan Belanda.

Baca Juga: Penelitian Ungkap Ganti Daging Merah dengan Protein Bermanfaat Atasi Kolesterol dan Kecilkan Lingkar Pinggang

Sampai saat ini sendiri belerang masih sangat dibutuhkan baik di bidang industri atau lainnya.

Seperti untuk membuat campuran kosmetik, sabun, pupuk, baterai, kertas, kaca, korek api, dan sebagainya.

Belerang tersebut berasal dari asap di dalam gunung yang keluar dan terkena udara dingin.

Baca Juga: Percaya atau Tidak? Mendengar 10 Musik Ini Dapat Membantu Penurunan Berat Badan hingga 30 Persen

Asap kemudian mengembun dan menghasilkan cairan sehingga saat sudah dingin akan mengeras menjadi bongkahan belerang berwarna kuning.

Tercatat ada ratusan penambang yang mengumpulkan bongkahan belerang di Kawah Ijen. Yakni para penduduk lokal di sekitar gunung.

Mereka mendapatkan upah sekitar Rp200.000 per hari sehingga ada banyak warga yang berminat menekuni profesi ini.

Padahal, pekerjaan tersebut memiliki risiko yang sangat besar sehingga termasuk paling berbahaya di dunia.

Para pekerja hanya memanfaatkan masker penutup wajah, linggis, dan keranjang dari anyaman bambu.

Lalu turun ke area kawah sedalam 300 meter dari puncak sehingga asap akan semakin tebal dan dapat menyebabkan sesak nafas.

Bongkahan belerang di lokasi ini kemudian akan dipecah lalu dikumpulkan ke dalam keranjang.

Setelah berhasil mengumpulkan bongkahan belerang, mereka juga perlu mengangkatnya di pundak dan mengangkut ke atas.

Diketahui beban yang harus dipikul tersebut mencapai 70-100 kg. Jalanan yang perlu ditaklukkan juga sangat menanjak.

Umumnya penambang akan melakukan pekerjaan ini sebanyak 2-3 kali dalam sehari.

Setelah mencapai atas, bongkahan belerang dipindahkan ke alat khusus lalu akan dikumpulkan ke pengepul.

Kemudian penambang belerang langsung mendapatkan bayaran atas hasil tambang yang sudah diperoleh.

Walaupun cukup berbahaya, banyak orang yang tetap memilih menjadi penambang belerang karena mereka dapat dibayar setiap harinya.***

 

Rekomendasi