

inNalar.com – Suku Bajo manusia pengembara laut yang ahli menyelam. Suku Bajo adalah suku yang dikenal sebagai penyelam dan penjelajah lautan yang sangat ulung.
Orang Bajo berlayar dari satu titik ke titik yang lain. Mereka tak berhenti menyelam lautan dengan alam sebagai pemandunya.
Meski, asal-usulnya belum diketahui secara pasti. Namun, suku Bajo dapat ditemukan di berbagai tempat.
Tak hanya di Indonesia orang Bajo juga ditemukan bermukim di perairan Sabah Malaysia, Tawi-Tawi dan Mindanao Filipina.
Menurut data sensus penduduk di tahun 2000 lalu populasi Suku Bajo berkisar 1,077,020 jiwa dimana 158,970 tersebar di indonesia dan sisanya ada di beberapa negara seperti Filipina dan Malaysia.
Melansir informasi yang diperoleh dari YouTube Jelajah Bumi ada yang menyebut suku Bajo berasal dari Filipina atau Malaysia. Tetapi, sejak berabad-abad mereka hidup di lautan secara nomaden.
Baca Juga: Tambah Lahan 112,48 Hektar, Jalan Tol di Aceh Ini Bakal Rampung 2024, Intip Rute Perjalanannya
Banyak yang menganggap asal usulnya dari Semenanjung Malaka lalu berimigrasi ke berbagai penjuru Nusantara. Beberapa meyakini juga berasal dari Sulawesi Selatan dan menyebar ke wilayah lainnya.
Kegiatan sehari-hari suku Bajo dilakukan dengan bantuan transportasi air berupa perahu. Perahu-perahu biasanya terparkir dibawah pelataran atau di sekitar rumah mereka.
Selain itu, perahu juga digunakan warga untuk mencari nafkah karena mayoritas menjadi nelayan.
Baca Juga: Tes Kepribadian: Cara Memegang Pena Dapat Ungkapkan Sifat dan Pekerjaan yang Cocok untuk Kamu!
Menariknya, suku Bajo masih mencari ikan secara tradisional seperti memancing, memakai kail, menjaring dan memanah sambil menyelam.
Menyelam adalah salah satu keahlian istimewa yang dimiliki suku Bajo. Terkadang orang Bajo suka berjalan-jalan di dasar laut layaknya sedang berjalan di daratan.
Mereka dikenal lebih tahan lama di dalam air hingga 13 menit pada kedalaman lebih dari 60 meter tanpa alat bantu napas atau oksigen.
Saat menyelam puluhan meter jantung suku Bajo melambat hingga 30 detak per menit dan menekan paru-parunya hingga sepertiga dari volume awal. Padahal normalnya detak jantung orang dewasa berkisar 60-100 per menit.
Bahkan, ada sebuah penelitian yang mengungkapkan suku Bajo telah beradaptasi secara genetis sehingga tahan dalam waktu lama saat menyelam.
Lebih lanjut, di tubuh suku Bajo ditemukan sebuah gen yang tidak dimiliki manusia pada umumnya.
Biasanya, hasil tangkapan penyelam suku Bajo akan dikonsumsi dan dijual ke masyarakat sekitar pesisir atau pulau terdekat.
Orang Bajo memiliki tempat tinggal yang berbeda dengan rumah-rumah masyarakat pada umumnya.
Masyarakat ini juga terbagi 2 yaitu Bajo daratan yang rumahnya tersusun atas karang-karang yang telah mati dan Bajo laut dengan rumah di atas permukaan air laut yang dikenal dengan Boboroh.
Rumah ini tersusun atas tiang yang terbuat dari batang pohon dan atap terbuat dari daun mipah. Sedangkan dinding dan lantainya terbuat dari papan dan balok kayu.
Pemukiman suku Bajo terbesar ada di kepulauan Wakatobi Sulawesi Tenggara. Walaupun dikenal sebagai pelaut yang tinggal diatas air namun beberapa ada yang sudah pindah ke daratan.
Dengan keunikan dan kemampuannya sebagai pengembara yang berada di lautan, suku Bajo menjadi salah satu inspirasi suku metaina dalam film Avatar the Way of Water.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi