Makan Biaya Rp800 Miliar, Pembangunan Bandara di Fakfak Papua Barat Ini Sempat Alami Kendala, Apa saja?

inNalar.com – Beberapa tahun kebelakang, pemerintah pusat gencar melakukan pemerataan pembangunan di daerah Papua dan salah satunya di Fakfak.

Dalam rangka pemerataan pembangunan, pemerintah membangun berbagai infrastruktur penunjang di Fakfak.

Adapun pembangunan bandara baru di Fakfak yang dikenal dengan nama Bandara Siboru.

Secara administratif, Bandara Siboru ini berlokasi di Siboru, Kec. Fakfak Bar., Kabupaten Fakfak, Papua Barat.

Baca Juga: Luasnya 381 ha, Nama Bandara Asal Sulsel Ini Diambil dari Raja Berjuluk De Haantjes van Het Osten, Siapa?

Bandara Siboru mulai dibangun oleh pemerintah pada tahun 2020 silam dan ditargetkan dapat beroperasi tahun 2023 ini.

Dilansir inNalar.com dari Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), dengan adanya bandara ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas transportasi udara di Papua Barat.

Mengingat medan jalan dan kondisi alam di Papua terkenal sullit pembangunan bandara ini juga merupakan upaya pemerintah untuk membuka isolasi di wilayah Papua.

Baca Juga: Kena Protes Warga, Proyek Bandara Internasional Senilai Rp2,4 Triliun di Sulawesi Selatan Ini Ternyata…

Di tahap awal, bandar udara di Fakfak ini akan dibangun dengan landasan pacu sepanjang 1.600 meter dengan lebar 30 meter.

Miliki landasan pacu sepanjang 1.600 meter, bandara Siboru bisa didaeati pesawat tipe boeing.

Untuk membangun bandara Siboru, pemerintah menggelontorkan dana yang tidak sedikit.

Baca Juga: Punya Prestasi Mendunia, Bandara Internasional di Kalimantan Timur Ini Diproyeksikan Jadi Gerbang Udara IKN

Anggaran yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk merealisasikan bandara ini mencapai Rp 800 miliar.

Dana Rp 800 miliar untuk pembangunan bandara Siboru tersebut bersumber dari anggaran APBN.

Namun, pembangunan bandar udara ini ternyata mengalami beberapa kendala.

Kendala pembangunan bandara ini terkait dengan masalah cuaca yang kerap diguyur hujan yang mengganggu jalannya pembangunan.

Tak hanya itu, aksebilitas jalan ke bandara serta mobilisasi material yang diambil melalui jalur laut yang berasal dari wilayah luar Fakfak juga menjadi kendala.***

 

Rekomendasi