

inNalar.com – Soeharto, sosok Presiden RI ke-2 yang akhiri masa jabatannya setelah menduduki tampuk kekuasaan di tahta tertinggi Indonesia usai krisis 1998 mengganas.
Belum banyak yang mengetahui, usai Presiden Soeharto membacakan pidato terakhirnya, ada ekspresi lainnya yang tak tertangkap oleh sorotan media kala itu.
Apa yang tersorot selama ini hanyalah ekspresi kebahagiaan kalangan oposisi politik Soeharto dan para mahasiswa yang melakukan demonstrasi.
Baca Juga: Targetkan Investasi Hingga Rp36,25 Triliun, KEK Galang Batang Kepulauan Riau Baru Rampung Tahun 2027
Rupanya, ada serpihan kisah yang belum banyak terungkap ke muka publik hingga akhirnya A. Yogaswara mengungkap dalam bukunya yang bercerita tentang biografi sang Presiden RI ke-2 tersebut.
Bermula dari krisis moneter yang telah menghimpit ekonomi Indonesia sejak Juli 1997 mulai dari krisis valuta asing, hama yang menekan sektor pertanian, hingga kebakaran hutan dalam skala besar.
Kondisi rakyat makin gelisah dengan mengetahui tumpukan hutang luar negeri yang dimiliki oleh Indonesia pada saat itu dan keadaan negeri yang kian meresahkan.
Presiden Soeharto yang disebut miliki sifat keras kepala ini, masih terus berusaha untuk memperbaiki segala keadaan luluh lantah negeri yang cukup rumit untuk diselesaikan.
Bisa jadi sifat ‘keras kepala’ tersebut disebabkan karena percaya dirinya akan dukungan militer TNI kala itu.
Meski demonstrasi kian menyebar ke beberapa daerah di Indonesia, Presiden Soeharto justru melakukan kunjungan ke Kairo.
Meski pada akhirnya kunjungan dirinya ke Kairo tetap dipersingkat. Namun sosok yang dikenal sebagai ahli strategi kali ini harus mengakui keputusannya tak tepat sasaran.
Selama kepergiannya ke Kairo, ternyata ini menjadi ruang yang cukup lega bagi para lawan politik untuk menggencarkan tuntutan mundurnya Presiden dari jabatannya.
Kepulangan Soeharto dari Kairo berlanjut dengan mengupayakan sebuah solusi krisis moneter untuk memperbaiki keadaan.
Solusi yang dibawakannya adalah reshuffle menteri dan membentuk kabinet reformasi.
Namun sayangnya, makna reformasi yang diinginkan rakyat adalah kabinet tanpa sosok dirinya.
Jadi itulah mengapa satu per satu orang kepercayaannya mulai menarik diri untuk memihaknya.
Tidak ada menteri yang bersedia masuk dalam kabinet ‘reformasi’ versi Soeharto.
Bahkan sosok yang saat itu disebut sebagai ‘pembantu’ paling setianya bertahu-tahun lamanya pun akhirnya memilih untuk ikut mundur tak mendukungnya.
Seolah situasi ini ingin menyampaikan kepada Presiden RI ke-2 ini bahwa inilah saatnya untuk menyerah pada kekuasaan dan akan sulit untuk perbaiki keadaan.
Hari berlalu dan saat momen pidato pengumuman reshuffle menteri kabinet akhirnya harus disampaikan oleh Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998.
Kala itu, Wakil Presiden RI B.J. Habibie mendampingi sang Presiden saat hendak membacakan pidato kabinet reformasi.
Tersorot oleh media, wajah para tokoh seperti Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, dan Emha Ainun Najib tampak menegang dan datar.
Ekspresi tegang dengan suasana sunyi yang hanya ada suara Soeharto berpidato kala itu, ternyata berubah seketika menjadi ekspresi terkejut.
Dikutip dari buku A. Yogaswara dalam ‘Biografi Daripada Soeharto’ bahwa semua serentak terkejut saat Bapak Presiden RI berucap pada kalimat berikut.
“Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis, 21 Mei 1998,” ungkap Presiden RI ke-2 Soeharto di Credentials Room, Istana Merdeka, Jakarta.
Pidato reshuffle kabinet reformasi seketika berubah menjadi momen pidato turun tahta sang mantan jenderal sepuh Soeharto.
Seluruh pendampingnya terkejut, sedangkan para oposisi politik dan demonstran bersorak-sorai dengan pernyataan tersebut.
Suatu ironi bahwa sosok yang dahulu dipandang sebagai pahlawan negara, tetapi di satu titik jenuh Presiden Soeharto menjadi orang yang paling tak diinginkan oleh banyak pihak di negerinya sendiri.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi