

inNalar.com – Konflik Hamas dan Israel memasuki hari ke enam. Serangan demi serangan kembali bermunculan di Gaza.
Gempuran yang dilakukan Israel terhadap Gaza akan terus dilakukan, hingga Hamas membebaskan tawanan perang yang sudah diculiknya.
Diketahui perang Hamas dan Israel ini sangatlah membuat krisis kemanusiaan, dimana bantuan suplai tidak diizinkan oleh Israel untuk masuk ke Gaza.
Beberapa bantuan yang sebenarnya sudah siap dikirimkan, diberhentikan oleh Israel di bagian perbatasan. Sehingga membuat para pengungsi kerepotan.
Bukan hanya itu, banyak korban berjatuhan yang dilarikan ke rumah sakit namun tidak mendapatkan penangangan, dikarenakan sumber listrik satu-satunya di Gaza telah dihancurkan oleh Israel.
Terbaru dilansir dari Al Jazeera gempurang Israel tersebut menewaskan puluhan orang pengungsi termasuk sembilan orang anak.
Baca Juga: Stasiun Mungil di Semarang Jawa Tengah Ini Diapit 2 Lintasan Kereta Api Sekaligus, Ada Berapa Jalur?
Konflik berkepanjangan tersebut memberikan dampak yang sangat krusial bagi Gaza. Selain menjadi medan tempur, kini Gaza layaknya kota mati.
Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu menyatakan dirinya akan sepenuhnya menghancurkan Hamas hingga tak bersisa.
Diketahui pemerintahan Israel juga telah bekerja sama dengan partai oposisinya di Pemerintahan, Benny Gantz guna menunda sementara konflik internal di negaranya.
Baca Juga: Konsisten Beri Layanan Prima, BRI Borong 9 Penghargaan Best Contact Center Indonesia (CCI) 2023
Tujuan bergabungnya Benny Gantz tersebut tidak lain karena ingin menghancurkan Hamas secara bersama dengan Benyamin.
Proses penyatuan kekuatan pemerintah dan oposisi menyebabkan kesatuan politik di Israel semakin menguat.
Dikabarkan bahwa orang yang sudah meninggal di Gaza sudah mencapai angka 1200 orang, secara kolektif, sedangkan korban luka mencapai angka 6000 ribuan.
Sedangkan jumlah orang yang terbunuh di Israel sudah mencapai 1300 orang menurut pemberitaan Al Jazeera.
Diketahui dari laporan terbaru, Hamas telah mencoba menghubungi beberapa negara seperti Mesir, Qatar, PBB terkait krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza.
Akibat dari pemberhentian pasokan suplai yang masuk di Gaza oleh militer dan pemerintah Israel. Sedangkan korban semakin berjatuhan dan membutuhkan pengobatan.
Ghazi Ahmad mengatakan bahwa dirinya sudah menghubungi beberapa pihak terkait bantuan kemanusiaan di Gaza.
Selaku biro politik Hamas, Ghazi Ahmad mencoba berkomunikasi untuk menyeselesaikan krisis kemanusian dan suplai obat-obatan untuk dapat masuk ke Gaza.
Namun, hal itu tidak mendapatkan respon di lapangan hingga saat ini.
Biro politik Hamas menyatakan bahwa kelompoknya melakukan yang terbaik untuk jalu kemanusiaan yang ada di Gaza.
“Kami berharap masyarakat Internasional mampu mengetahui batasan kemanusiaan yang terjadi dan dapat membantu di lapangan,” pungkas Ghazi biro politik Hamas.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi