

inNalar.com – Perburuan Paus kerap kali dilakukan oleh berbagai negara di dunia, meski mamalia terbesar yang ada di laut ini telah masuk dalam hewan yang hampir punah.
Perburuan paus ini pun juga dilakukan di Indonesia, yang merupakan tradisi dari Desa Lamalera, Pulau Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Tradisi menangkap paus ini merupakan tradisi tahunan yang telah berlangsung sejak 500 tahun lalu.
Menurut penduduk setempat, perburuan ini telah diwariskan oleh leluhur dan nenek moyang suku lamalera yang merupakan keturunan para pelaut.
Orang-orang Lamalera dikenal tangguh karena mampu menaklukkan paus besar hanya bermodalkan tongkat bambu.
Sebenarnya Konvensi Internasional telah melarang keras aktivitas perburuan paus di manapun. Namun, mengizinkan dan memaklumi penduduk Lamalera untuk melakukan ini.
Mengingat cara tradisional masih dilakukan dan makna bahwa perburuan makhluk laut raksasa ini membantu penduduk desa untuk mendukung ekonomi subsisten mereka.
Singkatnya dunia internasional telah memberikan persetujuan oleh adanya tradisi yang telah turun-temurun ini dilakukan, dan ini bukan untuk keperluan komersial bagi orang Lamalera.
Dilansir inNalar.com dari Youtube Jelajah Bumi, Paus dianggap oleh para penduduk setempat sebagai anugerah para Dewa, setiap perburuan yang berhasil dilakukan ini mampu memberi makan seluruh penduduknya selama berbulan-bulan.
Bermigrasi antara Samudra Hindia dan Pasifik dan dari bulan Mei hingga akhir Oktober hewan raksasa Mamalia ini melewati laut Sawo dan akan memakan banyak cumi-cumi besar di Pantai Selatan Lembata.
Di sanalah Armada kecil Perahu Layar dan tombak sebelum perburuan ini dimulai para pemburu paus akan menyiapkan senjata Tempuling yang digunakan untuk menikam paus di lautan
Tempuling terbuat dari sembilan bambu atau tongkat dengan bagian ujung diberikan besi runcing dan tajam.
Orang yang akan menikam paus disebut dengan lama fa, dan lama fa pun tidak dapat dipilih oleh sembarang penduduk Lamalera.
Hal ini mengingat, melawan paus merupakan sebuah pekerjaan yang berisiko tinggi.
Lama fa bahkan harus menjalani ritual agar tidak mendapatkan petaka, salah satunya yakni menjalani ritual puasa
Lama fa harus mempunyai ketangkasan dan kejelian untuk memilih mana paus yang boleh diburu dan mana yang tidak.
Penduduk Lamalera pun tidak sembarang menangkap setiap Paus yang terlihat, Paus yang akan diburu hanya paus sperma atau yang dikenal oleh penduduk sekitar dengan nama Koteklema.
Paus yang sudah tak berdaya pun nantinya akan ditarik ke tepi pantai daratan.
Selanjutnya Paus akan dipotong-potong dengan ukuran beragam, setelahnya pada bagian daging Paus akan dijemur untuk dapat memberi makan banyak keluarga selama berbulan-bulan
Sisa-sisa tulang belulang paus digunakan masyarakat sekitar sebagai cinderamata khas Lamalera yang akan dibentuk dengan berbagai macam yakni, ukiran kalung atau cincin.
Sebagian dari tubuh Paus lainnya akan dibakar dan dibuat minyak yang digunakan sebagai alat penerang desa atau sebagai kenang-kenangan bagi para wisatawan.
Meski telah dilakukan secara turun temurun, namun mengingat jika pau jenis sperma merupakan paus yang hampir punah dan sangat dilindungi.
Bahkan Indonesia sendiri telah memasukan hewan mamalia terbesar ini dalam satwa yang dilindungi dan dilarang untuk perburuan.
Dari hal tersebutlah pemerintah Indonesia perlu memikirkan lagi agar adanya perburuan paus di Desa Lamalera dapat lestari dengan menjamin kehidupan dan kebutuhan pangan yang ada di desa dengan penduduk miskin tertinggi di Indonesia tersebut.***