Menguak Jejak ‘Petrus’, Cara Penegakkan Keadilan Ala Pemerintahan Soeharto, Pelanggaran Terhadap HAM!

inNalar.com – Soeharto merupakan presiden ke-2 Republik Indonesia yang berkuasa selama 32 tahun.

Selama kepemimpinan Presiden Soeharto, terkenal dengan adanya sosok penembak misterius atau biasa disebut ‘Petrus’.

Petrus merupakan operasi rahasia pada masa kekuasaan Soeharto untuk menumpas kejahatan.

Baca Juga: Update: Mahasiswi Udinus Semarang yang Meninggal dalam Kos, Jenazahnya Telah Dipulangkan ke Kampung Halaman

Pada masa pemerintahan Soeharto, orang-orang yang dinilai sebagai pelaku kriminal akan dihakimi dengan cara tersendiri.

Bahkan, penumpasan kriminal tersebut dilakukan tanpa melalui adanya proses hukum,

Ya, melalui Petrus penumpasan kriminal tanpa adanya proses hukum dilakukan.

Baca Juga: Tercipta 4 Juta Tahun Lalu! Danau di Sulawesi Selatan Ini Jadi yang Terbesar Sekaligus Tertua di Indonesia?

Dilansir inNalar.com dari buku berjudul ‘Biografi Daripada Soeharto’, Orde baru semakin menunjukkan taringnya dengan adanya Penembak Misterius.

James T. Siegel, profesor senior jurusan Antropologi di Cornell University menyebutkan bahwa Orde Baru sengaja menampilkan diri sebagai sebuah kekuatan maut yang setiap saat mampu melenyapkan segala bentuk ancaman melalui Petrus salah satunya.

Rentetan peristiwa petrus ini dimulai di Yogyakarta pada bulan Maret 1983.

Baca Juga: Mau Buka Usaha Online? Simak Ragam Program dari Shopee untuk UMKM

Para kriminal ditemukan telah meninggal dunia di tempat-tempat umum dan peristiwa ini meluas ke seantero Jawa dan beberapa daerah di luar Jawa.

Pada saat itu, masyarakat luas yakin bahwa aparat penegak hukum telah main hakim sendiri.

Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi tingginya angka kriminalitas di Indonesia pada masa itu.

Kemudian, banyak pendapat pro dan kontra yang merebak dan menjadi bahan diskusi oleh media masa.

Namun, penembakan misterius ini dilakukan tanpa adanya bukti atas tindak kriminal yang dituduhkan kepada para korban.

Bisa dibilang, tidak ada upaya untuk memberikan kesempatan kepada mereka yang dituding sebagai pelaku kriminal.

Disisi lain, terdapat kabar yang mengatakan bahwa Petrus ini merupakan kampanye terselubung untuk menghabisi mantan tukang pukul Ali Moertopo.

Mengingat, Ali Moertopo dianggap berpotensi mengganggu kamanan pemerintahan pada saat itu.

Meskipun begitu, terdapat pengakuan Soeharto mengenai keterlibatan pemerintah atas masalah Petrus ini.

Soeharto menyatakan bahwa Petrus ini merupakan Shock Therapy agar orang-orang mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat mesti adayang bisa bertindak dan mengatasinya.

Tahun demi tahun berlalu dan peristiwa Petrus ini pelan-pelan terkuak dimana peristiwa ini merupakan pelanggaran HAM berat.

Pihak Komnas HAm menyebut dari hasil penyelidikan, jumlah korban dalam peristiwa Petrus ini mencapai 10 ribu orang.

Begitulah cara penegakkan hukum ala era pemerintaha Orde Baru oleh Soeharto.***

 

 

Rekomendasi