

inNalar.com – Menjadi Presiden ke-2 Republik Indonesia, membuat Soeharto banyak memiliki momen penting dalam hidupnya.
Salah satu momen yang tidak bisa dilupakan adalah saat anak pertama Soeharto lahir.
Menikah dengan Ibu Siti Hartinah, Soeharto dikaruniai 6 orang anak, yakni 3 perempuan dan 3 laki-laki.
Adapun nama-namanya adalah Siti Hardijanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmojo, Siti Hediati Hariyadi, Hutomo Mandala Putra, dan Siti Hutami Endang Adiningsih.
Baca Juga: Peduli Penyandang Disabilitas, Soeharto di tahun 1994: Orang Cacat Bisa Jadi Dokter, Kenapa Tidak?
Menurut penjelasan dalam buku Biografi daripada Soeharto karya A. Yogaswara, dijelaskan ada banyak peristiwa yang dialami Presiden ke-2 RI itu.
Khususnya pada saat kelahiran anak pertamanya, bernama Siti Hardijanti Hastuti atau dipanggil Tutut.
Pada waktu itu, Yogyakarta sedang jatuh ke tangan Belanda. Hal ini diakibatkan sebagian besar kekuatan TNI sedang dipusatkan ke pusat kota.
Sehingga tersisa sedikit kekuatan militer yang ada di Yogyakarta. Sebagai Komandan Brigade kala itu, Soeharto hanya mempersiapkan ketahanan di luar kota.
Sebagaimana waktu itu Yogyakarta berada dalam tanggung jawab Komando Militer Kota yang dipimpin Letkol Latief Hendraningrat.
Jika mengingatnya, Soeharto menyadari tugas tersebut sangatlah berat karena pasukan yang sedikit. Kurangnya pasukan saat itu membuat pihak agresor dengan mudah menguasai.
Baca Juga: Bongkar Filosofi Pembentuk Karakter Seorang Soeharto yang Hidup Bersama Mantri Tani
Hingga masyarakat Yogyakarta pada saat itu terlihat sangat sedih, karena mudahnya pasukan Belanda masuk ke kota.
Beberapa pimpinan akhirnya ditahan, termasuk juga Soekarno-Hatta. Sehingga mengharuskan Soeharto pada saat itu keluar dari Yogyakarta.
Mengingat Siti Hartinah, yang tengah hamil tua anak pertama, membuat Presiden kedua itu meninggalkan Kota Yogyakarta dengan berat hati.
Keputusan itu diambil untuk menjalankan gerilya bersama pasukannya, dengan pergi ke Gunung Piring, mendirikan markas baru di Bibis. Tepatnya di rumah kepala desa yang bernama Harjowiyadi.
Atas perintah Jenderal Soedirman yang dipimpin oleh A.H Nasution, Soeharto bersama pasukannya menjalankan siasat perang gerilya.
Saat inilah, momen kelahiran anak pertamanya yang terdengar bersamaan dengan kegiatan mendirikan kantong-kantong gerilya di markas.
Tepatnya pada tanggal, 23 Januari 1949, telah lahir seorang putri, yang kemudian diberi nama Siti Hardiyanti Hastuti atau dipanggil (Tutut).
Baca Juga: Unjuk Keterampilan dalam Militer, Soeharto Sempat Bongkar Rahasia Dibalik Serangan Umum 1 Maret 1949
Kelahiran anak pertama ini, membuat perasaan Soeharto menjadi campur aduk.
Perasaan senang dan cemas, sebagaimana seorang ayah untuk pertama kalinya, pasti ingin bertemu secara langsung.
Namun terhalang oleh keadaan perang gerilya ini, Soeharto tidak bisa bertemu dengan anak pertamanya yang baru lahir ini.
Inilah momen penting dibalik kelahiran anak pertama Soeharto, Siti Hardijanti Hastuti.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi